Jumat, 09 November 2012

Kisah Inspirasi dari Jim Carrey


Jim carrey dilahirkan di keluarga yang ‘kurang beruntung’. Ayahnya seorang pemain saksofon. Ayahnya memiliki cita-cita untuk menjadi artis bersama band yang ia rintis bersama teman-temannya. 

Sayangnya, ayah jim carrey harus menghapus cita-citanya karena dia menghadapi keadaan ekonomi yang buruk, sehingga dia menjadi seorang akuntan.

Ibu dari Jim carrey adalah gadis yang menarik dan penuh kasih sebelum ia menderita penyakit hipokondria (depresi jiwa yang terjadi karena imajinasi semata). 

Setiap hari Jim melakukan gerakan-gerakan yang lucu untuk menghibur ibunya dan membuatnya tertawa. Namun jim tidak melakukannya di sekolah karena dia terkenal sebagai seorang pemalu.

Suatu hari Jim merenung, ia berpikir bahwa apa yang dia lakukan untuk ibunya bisa dijadikan alat untuk menarik perhatian teman-temannya di sekolah. Benar saja saat istirahat sekolah Jim mulai mempraktekan apa yang biasa dilakukna di depan ibunya dan teman-temannya terhibur. 

Karena kebiasaanya melucu dan membuat kelasnya tertawa, gurunya sampai memberikan jatah istirahat 15 menit lebih awal untuknya asalkan ia mau menjaga ketenangan kelas saat pelajaran berlangsung.

Ayah jim tiba-tiba diberhentikan dari pekerjaannya sebagai akuntan dan membuat kondisi ekonomi keluarga Jim semakin berat. Mereka mau tidak mau menjual barang-barang yang mereka miliki. Rumah tinggal pun ikut dijual. Jim harus berhenti sekolah di usia yang baru 16 tahun.

Jim sekeluarga berangkat ke Toronto. Di sana, ayah jim bekerja serabutan. Mereka tinggal di dalam mobil Van yang mereka miliki!! Akhirnya Jim mendapat kesempatan untuk bekerja di salah satu klub komedi. 

Jim bukannya mendapat pujian, ia mendapat cemoohan!! Namun Jim belajar ilmu baru dari kejadian tersebut. Jim belajar bahwa orang-orang di sana menyukai gaya jim yang menirukan orang lain seperti pejabat, artis, dll. Jim menggunakan ilmu yang ia pelajari untuk terus berkeliling dari satu klub ke klub lainnya.

Jim sadar akan bakat dan potensi yang ia miliki, lalu ia pindah ke Los Angles. Ia mulai mencari klub disana dan menawarkan diri untuk bekerja disana sebagai komedian. Ia mulai bekerja dan mendapat penghasilan sebesar $1000/bulan yang ia gunakan untuk membayar penginapan tempat dimana ia tinggal.

Satu kali Rodney Dagerfield menyaksikan aksi Jim. Jim ditawari untuk penampilan rutin dengan bayaran yang lebih tinggi. Hidupnya pun mulai berubah. Sampai pada satu hari jim mulai merenung kembali tentang apa yang ia jalani selama ini. Ia sadar betul bahwa aksi andalannya adalah menirukan gaya orang lain. Dia tidak menjadi dirinya sendiri!!

Ia mulai melakukan komedi dengan gayanya sendiri. Lalu Rodnye berkata pada Jim “mereka menganggapmu aneh Jim”. Kontrak kerjanya diputus dan Jim mulai mencari pekerjaan kembali. ia berkeliling kota untuk menemukan pekerjaan. Akhirnya Jim mendapatkan peran kecil disebuah komedi berjudul “The Duct Factory” pada usia 22 tahun.

Sampai Jim usia 25 tahun tidak ada perubahan apapun dalam hidupnya. Saat jim berusia 26 tahun Jim diberi peran oleh Damon Wayans di sebiah sketsa komedi yang berjudul “Living Color”. Melihat penampilannya disana Jim ditawari untuk mengisi peran di sebuah film baru yaitu Ace ventura. Jim menolak karena tidak sesuai dengan keinginannya untuk menampilkan ciri khas komedi Jim.

Selang beberapa tahun, Jim menerima tawaran menjadi Ace Ventura. Ia bebas memodifikasi naskah film untuk disesuaikan dengan karakternya. Empat bulan waktu yang dihabiskan oleh Jim untuk memodifikasi naskah film. Jim menerima bayaran sebesar $12juta dan produser film sudah pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Jim.

Setelah diproduksi Ace Ventura menjadi film HITS uang menhasilkan lebih dari $70jt (sangat tinggi untuk ukuran film komedi saat itu), Itulah awalnya, di usia 34 tahun, Jim carrey mulai menjadi salah satu ‘bintang’ seperti yang ia cita-citakan sebelumnya.

Jangan takut untuk bermimpi besar, jangan takut untuk memulainya dari nol, karena semua hal besar, berawal dari mimpi yang besar!

Dan tidak semua hal besar diawali dari apa yang besar, semuanya itu berawal dari hal kecil yang terus dikembangkan menjadi besar dan menjadi sangat besar, karena sebuah keteguhan dalam usaha pencapaiannya.

Rabu, 07 November 2012

SAM KOK


Zaman Tiga Kerajaan



Zaman Tiga Negara atau juga dikenal dengan nama Samkok (Hanzi sederhana: 三国時代; Hanzi tradisional: 三國時代, hanyu pinyin: sanguo shidai, bahasa Inggris: Three Kingdoms Era) (220 - 280) adalah sebuah zaman di penghujung Dinasti Han di mana Cina terpecah menjadi tiga negara yang saling bermusuhan.

Di dalam sejarah Cina biasanya hanya boleh ada kaisar tunggal yang dianggap menjalankan mandat langit untuk berkuasa, namun di zaman ini karena tidak ada satupun negara yang dapat menaklukkan negara lainnya untuk mempersatukan Cina, maka muncullah tiga negara dengan kaisar masing-masing. Cina akhirnya dipersatukan oleh keluarga Sima yang merebut kekuasaan dari negara Wei dan menaklukkan Wu serta mendirikan Dinasti Jin.

Kronologi sejarah

Penghujung Dinasti Han

Dinasti Han mengalami kemerosotan sejak tahun 100 karena kaisar-kaisar penguasa yang tidak cakap memerintah dan pembusukan di dalam birokrasi pemerintahan. Beberapa pemberontakan petani pecah sebagai bentuk ketidakpuasan rakyat terhadap kekaisaran. Namun ketidakmampuan kaisar lebih parah dipergunakan oleh para kasim untuk mengkonsolidasikan kekuasaan di tangan mereka. Penghujung Dinasti Han memang adalah sebuah masa yang didominasi oleh pemerintahan kasim.

Sejak Kaisar Hedi, kaisar-kaisar selanjutnya naik tahta pada masa kanak-kanak. Ini menyebabkan tidak ada pemerintahan yang stabil dan kuat karena pemerintahan dijalankan oleh kasim-kasim dan keluarga kaisar lainnya yang kemudian melakukan kudeta untuk menyingkirkan kaisar yang tengah beranjak dewasa guna melanggengkan kekuasaan mereka. Ini menyebabkan lingkaran setan yang kemudian makin memurukkan situasi Dinasti Han. Pada penghujung dinasti Han muncul pemberontakan selendang kuning atau yang lebih dikenal dengan pemberontakan serban kuning, yang dipimpin oleh Zhang Jiao beserta antek-anteknya mereka menduduki wilayah Yu Zhou, Xu Zhou, Yan Zhou. Tepatnya dulu menduduki kota-kota Ping Yuan, Wan, Xu Chang, Ye, Xiao Pei, Shou Chun. Untuk menumpas pemberontakan yang muncul maka pemerintah dinasti Han menobatkan He Jin sebagai Jendral besar sekaligus perdana menteri. Selama kurang lebih 8 tahun, He jin masih tidak dapat menumpas pemberontakan.

Kelaliman Perdana Menteri Dong Zhuo

Pada tahun 189, sesaat setelah Kaisar Lingdi mangkat, para menteri kemudian merencanakan untuk membunuh Jenderal He Jin, paman dari anak Kaisar Lingdi, Liu Bian. Ini dimaksudkan untuk mencegah He Jin mendudukkan Liu Bian sebagai kaisar pewaris tahta. Rencana ini diketahui oleh He Jin yang kemudian segera melantik Liu Bian sebagai pewaris tahta dengan gelar Shaodi pada April 189. Selain itu, He Jin juga memerintahkan Dong Zhuo untuk kembali ke ibu kota Luoyang untuk menghabisi para menteri serta kasim yang ingin merebut kekuasaan itu. Sebelum Dong Zhuo sampai, He Jin sudah dibunuh dahulu oleh para menteri di dalam istana.

Yuan Shao kemudian mengambil inisiatif menyerang istana dan memerintahkan pembunuhan sebagian menteri dan kasim yang dituduh berkomplot merebut kekuasaan kekaisaran. Namun, menteri lainnya menyandera Kaisar Shaodi dan adiknya Liu Xie ke luar istana. Dong Zhuo mengambil kesempatan ini untuk memusnahkan kompolotan menteri tadi dan menyelamatkan kaisar. Dengan kaisar di bawah pengaturannya, Dong Zhuo kemudian memulai kelalimannya.

Dong Zhuo mulai menyiapkan strateginya untuk mengontrol kekuasaan kekaisaran di Cina dengan membatasi wewenang kekuasaan Kaisar Shaodi. Ia lalu menghasut Lu Bu untuk membunuh ayah angkatnya, Ding Yuan dan merebut seluruh kekuatan militernya untuk memperkuat diri sendiri. Yuan Shao juga diusir olehnya dari Luoyang. Ia membatasi wewenang para menteri dan memusatkan kekuasaan di tangannya, setelah itu, Kaisar Shaodi diturunkan dari tahta untuk kemudian digantikan oleh adiknya Liu Xie yang menjadi kaisar dengan gelar Xiandi pada September 189. Sejarahwan beranggapan bahwa momentum ini adalah awal Zaman Tiga Negara.

Yuan Shao kemudian menghimbau para jenderal penguasa daerah untuk melawan kelaliman Dong Zhuo. Usahanya membawa hasil 11 batalyon militer beraliansi untuk melakukan agresi ke Luoyang guna menumbangkan rezim Dong Zhuo. Yuan Shao memimpin aliansi yang kemudian dinamakan sebagai Tentara Pintu Timur. Dong Zhuo merasa takut dan membunuh bekas kaisar Shaodi, membumi-hanguskan dan merampok penduduk Luoyang, menyandera Kaisar Xiandi dan memindahkan ibu kota ke Chang'an.

Dalam pelariannya, Dong Zhuo diserang oleh Cao Cao dan Sun Jian yang tergabung dalam Tentara Pintu Timur, namun sayang karena ada kecemburuan di dalam aliansi menyebabkan tidak ada bantuan dari jenderal lainnya yang tidak ingin melihat keberhasilan mereka berdua. Aliansi ini kemudian bubar dan Dong Zhuo meneruskan kelalimannya di Chang'an.

Akhirnya, pada tahun 192, menteri istana bernama Wang Yun bersama Lu Bu menghabisi nyawa Dong Zhuo di Chang'an. Ini mengakibatkan bawahan Dong Zhuo, Li Jue menyerang istana dan membunuh Wang Yun serta mengusir Lu Bu. Li Jue melanjutkan kelaliman pemerintahan Dong Zhuo.

Berkuasanya raja-raja perang

Setelah Dong Zhuo berhasil dijatuhkan, Dinasti Han makin melemah karena kehilangan kewibawaan kekaisaran. Melemahnya kekuasaan istana menyebabkan para gubernur dan penguasa daerah memperkuat diri sendiri dan menjadi raja kecil di wilayah mereka. Ini menyebabkan munculnya rivalitas antar raja-raja perang satu wilayah dengan wilayah lainnya. Raja perang yang terkenal dan kuat pada masa ini adalah :
  • Yuan Shao, menguasai Prefektur Ji di utara Sungai Kuning.
  • Cao Cao, menguasai Chenliu dan kemudian Xuchang.
  • Yuan Shu, menguasai daerah Huainan dan mengangkat diri sebagai kaisar karena mempunyai stempel kekaisaran di tangannya.
  • Sun Jian, menguasai Changsha.
  • Dong Zhuo, gubernur Prefektur Liang, namun kemudian merebut ibu kota Luoyang dan memindahkannya ke Chang'an, Prefektur Sili.
  • Liu Biao, menguasai Prefektur Jing.
  • Liu Zhang, menguasai Prefektur Yi.
  • Zhang Lu, menguasai Hanzhong.
  • Ma Teng, menguasai Prefektur Liang.
  • Gongsun Zan, menguasai Semenanjung Liaodong.
Peperangan Guandu dan penyatuan utara


Di antara mereka, kekuatan Cao Cao dan Yuan Shao berkembang paling pesat dan menyebabkan peperangan di antara mereka tidak dapat dihindari. Cao Cao pada tahun 197 menaklukkan Yuan Shu, lalu Lu Bu pada tahun 198 serta Liu Bei setahun selanjutnya. Tahun 200, Yuan Shao memulai ekspansi wilayah ke selatan, namun berhasil dipukul mundur oleh Cao Cao. Yuan Shao kemudian memutuskan untuk memimpin sendiri kampanye militer ke selatan dan berpangkalan di Yangwu. Cao Cao juga mundur ke Guandu untuk melakukan kampanye defensif. Di sini, kekuatan di antara mereka berimbang selama setengah tahun sampai akhirnya Cao Cao melakukan serangan mendadak dan memusnahkan seluruh persediaan logistik Yuan Shao. Yuan Shao kemudian mundur karena moral prajurit yang rendah setelah kekalahan yang menentukan itu. Ini adalah peperangan Guandu yang terkenal itu.

Setelah kekalahannya di Guandu, Yuan Shao beberapa kali mencoba melakukan serangan kepada Cao Cao namun gagal. Tahun 202, Yuan Shao meninggal, menyebabkan perebutan kekuasaan antara putranya, Yuan Tan dan Yuan Shang. Cao Cao mengambil kesempatan ini untuk menaklukkan Yuan Shang dan membunuh Yuan Tan. Yuan Shang kemudian mencari perlindungan kepada suku Wuhuan di utara yang mendukung Yuan Shao. Atas nasihat Guo Jia, Cao Cao menyerang Wuhuan dan membunuh pemimpinnya. Yuan Shang dalam pelariannya mencari perlindungan kemudian dibunuh oleh Gongsun Kang yang takut diserang Cao Cao bila memberikan suaka kepada Yuan Shang.

Tahun 207, Cao Cao secara resmi mempersatukan wilayah utara Cina dan merencanakan ekspansi ke wilayah selatan.


Kampanye militer ke selatan dan peperangan Chibi


Tahun 208, Cao Cao melakukan kampanye militer ke selatan tepatnya ke Prefektur Jingzhou yang saat itu dikuasai oleh Liu Biao. Liu Biao meninggal sebelum Cao Cao tiba. Liu Zong, anak Liu Biao yang menggantikan ayahnya menyerah kepada Cao Cao. Liu Bei yang saat itu berlindung kepada Liu Biao melarikan diri ke Jiangling, namun berhasil dipukul mundur lebih lanjut ke Xiakou.

Sun Quan mengutus penasihatnya Lu Su mengunjungi Liu Bei menanyakan keadaannya. Zhuge Liang kemudian mewakili Liu Bei mengajukan penawaran aliansi kepada Sun Quan. Aliansi Sun-Liu terbentuk untuk menahan serangan Cao Cao. Zhou Yu dan Cheng Pu memimpin tentara Sun dan berhasil memukul mundur tentara Cao Cao dengan strategi api. Peperangan berlokasi di daerah Chibi dan terkenal sebagai pertempuran Chibi.


Liu Bei menduduki Prefektur Yizhou

Cao Cao yang kalah perang kemudian mengalihkan perhatian ke wilayah barat. Cao Cao menyerang Hanzhong yang dikuasai Zhang Lu. Penguasa di Xiliang kemudian melakukan perlawanan pada tahun 211 karena takut menjadi target Cao Cao selanjutnya. Ma Chao yang memimpin perlawanan ini dikalahkan Cao Cao dan mengasingkan diri. Setelah tahun 215, Cao Cao telah berhasil menguasai seluruh wilayah utara dan barat Cina.

Kemenangan aliansi Sun-Liu membuahkan perpecahan di antara mereka. Mereka mulai memperebutkan Jingzhou yang ditinggalkan Cao Cao. Perebutan ini dimenangkan oleh Sun Quan, yang melakukan serangan militer ke selatan Jingzhou di bawah pimpinan Zhou Yu. Zhou Yu berencana melanjutkan ekspansi militer ke Prefektur Yizhou yang dikuasai Liu Zhang, namun ia meninggal dalam perjalanan. Lu Su yang menggantikannya menghentikan rencana ini dan meminjamkan Jingzhou kepada Liu Bei untuk pangkalan militer sementara untuk menahan kemungkinan serangan Cao Cao.

Saat ini, Liu Zhang mengundang Liu Bei untuk membantu Yizhou melawan kemungkinan ekspansi Cao Cao bila berhasil menduduki Hanzhong. Liu Bei berangkat menuju Yizhou meninggalkan Guan Yu menjaga Jingzhou. Perseteruan Liu Bei dan Liu Zhang pecah pada tahun 212, Liu Bei lalu menduduki Chengdu dan memaksa Liu Zhang menyerahkan kekuasaan Yizhou kepadanya.


Tiga negara terbentuk


^Peta tiga kerajaan

Tahun 216, Cao Cao mengangkat diri sebagai Raja Wei. Setahun kemudian, Liu Bei menyerang Hanzhong yang saat itu dikuasai Cao Cao. Pengkhianatan dari dalam dan kampanye militer Sun Quan di wilayah tengah menyebabkan Cao Cao terpaksa harus mundur dari Hanzhong. Liu Bei juga mengangkat diri menjadi Raja Hanzhong pada tahun 219.

Tahun yang sama, Guan Yu memimpin pasukan menyerang Cao Cao, namun Lu Meng melakukan serangan dari belakang secara mendadak ke Jingzhou. Guan Yu berhasil ditangkap dan dibunuh oleh Lu Meng. Tahun 220, Cao Cao meninggal dunia dan digantikan oleh putranya Cao Pi. Cao Pi memaksa Kaisar Xiandi menyerahkan tahta kekaisaran lalu mendirikan Negara Wei dan bertahta dengan gelar Wendi. Setahun kemudian, Liu Bei yang mendukung kelanjutan Dinasti Han mengangkat diri sebagai kaisar dengan gelar Zhaoliedi.

Sun Quan menyatakan tunduk kepada Wei dan diangkat sebagai Raja Wu oleh Cao Pi. Tahun 221 juga, Liu Bei menyerang Sun Quan dengan tujuan membalaskan dendam Guan Yu, namun berhasil dipukul mundur oleh Lu Xun dan meninggal pada tahun 223. Liu Chan kemudian menggantikan sang ayah menjadi kaisar dengan gelar Xiaohuaidi. Sepeninggal Liu Bei, Sun Quan kembali bersekutu dengan Liu Chan untuk menahan pengaruh Cao Cao. Tiga negara resmi berdiri dan tidak akan ada satupun negara dapat menaklukkan negara lainnya selama kurun waktu 40 tahun.

Runtuhnya negara Shu Han

Sepeninggal Liu Bei, negara Shu Han melakukan ekspansi wilayah ke timur laut Shu. tepatnya kota Chang An yang dipimpin oleh Cao Hong dan Sima Yi sebagai penasihatnya. Ini dilakukan untuk mengurangi kemungkinan diserang dari belakang saat pelaksanaan gerakan ofensif terhadap Wei di utara. Setelah wilayah di belakang ( maksudnya daerah di Nan Man, yang dikuasai suku bar-bar) berhasil ditenangkan, Shu Han melakukan 5 kali penyerangan ke utara di bawah pimpinan Zhuge Liang dalam kurun tahun 227 sampai 234, mulai dari Tian Shui sampai Wu Zhang dan yang berhasil dikuasai Shu Han hanya Tian Shui saja.

Zhuge Liang meninggal pada peperangan di tanah Wu Zhang atau dikenal dengan peperangan Wu Zhang Plains, dimana Zhuge Liang sebenarnya menggunakan Ba Zhen Du sebagai ilmu sihir tingkat tingginya, namun oleh Wei Yan, perwira Shu Han digagalkannya akibat pengaruh dari Sima Yi. tahun 234 lalu digantikan oleh Jiang Wei yang meneruskan ekspedisi ke utara, namun tidak menghasilkan kemenangan yang mutlak. Liu Chan yang tidak cakap memimpin mempercayakan jalannya pemerintahan kepada menteri kesayangannya Huang Hao. Jiang Wei yang mengajukan mosi tidak percaya kepadanya, malah dituduh berkhianat kepada negara. Ini menyebabkan Wei kemudian berhasil mematahkan pertahanan Hanzhong dan menyerang sampai ke Chengdu, ibu kota Shu Han. Liu Chan menyerahkan diri kepada Wei dan negara Shu Han resmi runtuh pada tahun 263.

Berdirinya Dinasti Jin

Tahun 265, menteri negara Wei, Sima Yan merebut kekuasaan dari keluarga Cao dan mendirikan negara Jin, beribu kota di Luoyang. Ia bertahta dengan gelar Kaisar Wudi. Jin kemudian merencanakan penaklukan negara Wu yang saat itu sedang kacau sepeninggal Sun Quan pada tahun 251. Tahun 279, penyerangan Wu dilancarkan dan Jin berhasil menaklukkan Wu tanpa perlawanan berarti karena moral prajurit yang rendah. Sebab utama kekalahan Wu adalah pemerintahan lalim dari kaisar Sun Hao.

Tahun 280, Cina dengan resmi dipersatukan di bawah Dinasti Jin yang kerap disebut sebagai Jin Barat oleh sejarahwan. Dinasti ini akan berkuasa sampai tahun 420 sebelum Cina kembali terpecah-pecah karena lemahnya kekaisaran dan serangan suku-suku barbar dari utara.

Sastra

Zaman ini punya popularitas lebih di masyarakat luas karena Luo Guanzhong, seorang sastrawan Dinasti Ming menuliskannya sebagai latar belakang roman sejarah Kisah Tiga Negara (三國演義). Selain itu, ada pula sastra sejarah resmi Catatan Sejarah Tiga Negara (三國志) karya Chen Shou, seorang sejarahwan Dinasti Jin.

Tokoh-tokoh berdasarkan negara

Penghujung Dinasti Han
  • Dong Zhuo, perdana menteri tiran, kemudian dibunuh oleh Lu Bu
  • Yuan Shao, bangsawan dari utara, kemudian dikalahkan Cao Cao
  • Liu Biao, bangsawan dari Jingzhou, musuh bebuyutan keluarga Sun
  • Gongsun Zan, jenderal Han di perbatasan timur laut, kemudian dikalahkan Yuan Shao
  • Lu Bu, jenderal bengis penuh sifat khianat, membunuh 2 ayah angkatnya, akhirnya dihukum mati oleh Cao Cao setelah diingatkan oleh Liu Bei tentang sifat pengkhianatnya yang tidak bisa dipercaya
  • Ma Teng, penguasa Liangzhou, terbunuh karena dijebak oleh Cao Cao
  • Kaisar Xiandi, kaisar terakhir Dinasti Han, menjadi kaisar pada masa anak-anak, menggantikan Kaisar Shao
  • Diaochan, disuruh Wang Yun untuk membuat hubungan Dong Zhuo dan Lu Bu retak
  • Hua Tuo, Seorang tabib terkenal, Ia meyembuhkan luka Guan Yu Ketika Guan Yu teluka, dibunuh oleh Cao Cao karena Huo Tuo mau membelah otaknya untuk menyembuhkan penyakit sakit kepala Cao Cao
Cao Wei

  • Cao Cao, raja perang, mempersatukan utara Tiongkok
  • Cao Pi , anak Cao Cao, kaisar pertama Wei
  • Sima Yi, penasehat militer, kakek Sima Yan kaisar pertama Jin
  • Guo Jia, penasehat militer, mati muda karena sakit
  • Xun Yu, penasehat militer, handal dalam masalah pemerintahan
  • Xiahou Dun, jenderal perang, kehilangan satu matanya karena dipanah
  • Xiahou Yuan,jenderal perang, dikenal karena kemampuan memanahnya
  • Zhang Liao, jenderal perang, mantan bawahan Lu Bu
  • Zhang He, jenderal perang, mantan bawahan Yuan Xhao
  • Dian Wei, pengawal pribadi Cao Cao, tewas demi melindungi kaburnya Cao Cao
  • Pang De, jenderal perang, mantan bawahan Ma Teng
  • Cao Ren, jenderal perang, sepupu Cao Cao
  • Cao Yi, cucu perempuan Cao Cao, anak dari Cao Pi, pemimpin terakhir dari keturunan/marga Cao
Dong Wu

  • Sun Jian, panglima perang, penguasa Changsha, dikenal dengan sebutan "Macan dari Jiang Dong"
  • Sun Ce, anak sulung Sun Jian, peletak dasar negara Wu, suami Da Qiao
  • Sun Quan, adik Sun Ce, kaisar pertama negara Wu
  • Sun Shan Xiang, adik Sun Ce, menjalin hubungan cinta dengan Liu Bei
  • Lu Meng, penasehat militer, kemudian dibunuh oleh arwah Guan Yu
  • Zhou Yu, penasehat militer, suami Xiao Qiao, mati muda karena sakit
  • Zhuge Jin, penasehat militer, kakak Zhuge Liang
  • Lu Xun, jenderal perang, memenangi pertempuran Xiaoting/Yiling
  • Huang Gai, jenderal perang, pura-pura membelot ke Wei saat pertempuran tebing merah
  • Gan Ning, jenderal perang, mantan bajak laut yang membunuh Ling Cao
  • Taishi Ci, jenderal perang, pernah memerangi Sun Ce
  • Da Qiao dan Xiao Qiao, istri Sun Ce dan Zhou Yu
  • Ling Tong, anak Ling Cao, menaruh dendam pada Gan Ning, tetapi akhirnya mereka berdua bersatu berperang mendampingi Sun Quan
  • Ling Cao, jenderal perang,ayah dari Ling Tong,dan dibunuh oleh Gan Ning sebelum Gan Ning bergabung dengan Sun Quan
Shu Han

  • Liu Bei, bangsawan masih keturunan trah Han, ingin meneruskan Dinasti Han
  • Zhuge Liang, penasehat militer jenius, dijuluki 'Naga Tidur'
  • Pang Tong, Páng Tǒng (龐統) (178-213M), adalah penasehat Liu Bei pada zaman Dinasti Han. Nama Taoisnya adalah Phoenix Muda (鳯雛; Fèngchú). Novel epik sejarah Kisah Tiga Negara menggambarkan Pang Tong sebagai seorang ahli strategi militer jenius, dan menempatkannya di tingkat yang setara dengan ahli strategi Zhuge Liang. Kepada Liu Bei, Sima Hui menjuluki Pang Tong dan Zhuge Liang sebagai:
“ Naga Tidur dan Phoenix Muda: bersama salah satu dari mereka, engkau bisa menyelesaikan apa pun di bawah langit.
  • Jiang Wei, jenderal perang, membelot dari Wei, konon mewarisi sebagian dari keahlian Zhuge Liang.
  • Guan Yu, dikenal juga sebagai Guan Gong, adik angkat Liu Bei, mampu membuat Cao Cao nyaris memindahkan ibukota dari Xu Chang (versi novel), salah satu dari Jenderal 5 Harimau
  • Zhang Fei, adik angkat Liu Bei, seorang pemabuk berat, salah satu dari Jenderal 5 Harimau
  • Zhao Yun, jenderal perang, pernah mengabdi pada Gongsun Zan,menyelamatkan Liu Chan di Chang Ban yang menjadi kaisar terakhir negeri Shu, salah satu dari Jenderal 5 Harimau yang hidup paling lama
  • Huang Zhong, jenderal perang, dikenal karena kemampuan memanahnya, salah satu dari Jenderal 5 Harimau
  • Ma Chao, jenderal perang, anak Ma Teng, salah satu dari Jenderal 5 Harimau
  • Wei Yan, jenderal perang, berkhianat di Wu Zhang
  • Xing Cai, anak dari Zhang Fei, istri dari Liu Chan
  • Liu Chan, anak dari Liu Bei , ia menjadi kaisar kedua di Shu ketika Liu Bei meninggal
  • Guan Xing, anak dari Guan Yu, mati muda karena sakit
  • Zhang Bao, anak dari Zhang Fei, mati di perang Wu Zhang
  • Guan Ping, anak tertua Guan Yu, ia wafat bersama Guan Yu
  • Ma Dai, Jenderal perang Zhuge Liang, keponakan dari Ma Teng dan sepupu Ma Chao
  • Mi Fang, Jenderal perang Guan Yu, Ia disuruh menjaga Nanjun ketika Guan Yu ke Fan Cheng, kemudian ia dibunuh oleh Liu Bei
  • Fushi Ren, jenderal perang Guan Yu, Ia diperintahkan menjaga Gong'an Ketika Guan Yu ke Fan Cheng, kemudian ia dibunuh oleh Liu Bei
  • Yue Ying, istri dari Zhuge Liang, pernikahan ini diinginkan oleh ayahnya
  • Meng Huo, bekas Raja Man, pernah memberontak/menyerang Shu Selatan, sebelum ditaklukkan habis-habisan oleh Zhuge Liang
Populasi

Populasi di zaman ini dapat dirujuk kepada catatan sejarah oleh Chen Shou yang memperkirakan sekitar 8.640.000 jiwa hidup di dalam wilayah ketiga negara. Di antaranya 4.400.000 jiwa tinggal di dalam wilayah Wei, Wu dan Shu masing-masing berpopulasi 2.300.000 dan 1.940.000.[1] Wei pada dasarnya ditakdirkan untuk menjadi yang terkuat karena memiliki prasyarat yang lebih daripada kedua negara lainnya seperti penguasaan ibu kota negara sebagai pusat kegiatan politik dan ekonomi.

source:

Senin, 29 Oktober 2012

Zhao Yun


Zhao Yun 


Zhao Yun Lahir di desa Zhending Propinsi Changshan (sekarang ZhengdingHebei) sekitar tahun 168 AD. Ia bergabung dengan Gongsun Zan pada akhir 191 atau permulaan 192 sebagai pemimpin untuk grup kecil sukarelawan. Pada 192 dia diperintahkan untuk membantu Liu Bei, yang hanya memiliki pangkat mayor untuk Gongsun Zan, tak lama Zhao Yun meninggalkan Gongsun Zan dan Liu Bei untuk menghadiri pemakaman kakaknya beberapa saat setelah itu.
Zhao Yun kembali bergabung dengan Liu Bei pada 200 AD, ketika Liu Bei dikalahkan Cao Cao dan pergi ke Yuan Shao. Zhao Yun dikatakan bersahabat dekat dengan Liu Bei. Semenjak itu, Zhao Yun Ikut dengan Liu Bei sepanjang perjalanannya di sekeliling utara negeri Cina.
Pada 208, Zhao Yun membuktikan kemampuannya pada pertempuran Changban. Ketika Liu Bei sedang melarikan diri keluarganya tertinggal. Maka Zhao Yun pergi ke utara, menimbulkan kecurigaan bahwa Zhao Yun menyerah kepada Cao Cao. Ketika seseorang melaporkannya ke Liu Bei, Liu Bei dengan marah melemparkan kapak dan berkata "Zilong tidak akan pernah mengkhianatiku". Benar saja tak berapa lama, Zhao Yun kembali dengan anak Liu Bei, Liu Shan di tangannya, Juga membawa Nona Gan istri Liu Bei. Dengan ini, Zhao Yun diangkat menjadi “General of the Standard”. Pada pertarungan ini Cao Cao sangat terkesan atas keberanian dan keahlian Zhao Yun dan memerintahkan untuk menangkap Zhao Yun hidup2x dengan harapan Zhao Yun menyerah kepadanya. Dalam pertarungan ini Zhao Yun tujuh kali menerobos keluar masuk tentara Cao Cao, membunuh ribuan prajurit, membunuh puluhan panglima musuh dan merebut 2 panji bendera Cao Cao. Dalam perjalanan kembali dia bertemu dengan Zhang Fei di jembatan Chang Ban, ketika dia menemui Liu Bei dengan Liu Shan yang tertidur di dekapannya Liu Bei dengan marah melempar anaknya ke tanah yang oleh Zhao Yun hampir gagal ditangkap kemudian Liu Bei berkata, “Untuk menyelamatkan anak itu aku hampir kehilangan seorang panglima terbaikku.” Hal ini untuk menunjukkan betapa Liu Bei menilai tinggi Zhao Yun.
Setelah pertempuran Chi Bi, Zhao Yun berperan besar untuk menaklukan wilayah Jiangnan untuk Liu Bei. Zhao dipromosikan sebagai mayor jendral dan diangkat sebagai gubernur Guiyang, menggantikan Zhao Fan. Zhao Fan ingin menikahkan kakak iparnya Nona Fan dengan Zhao Yun. Namun, Zhao Yun menolaknya dengan halus Zhao Fan mengatakan, “Margaku sama denganmu. Oleh karena itu aku menganggapmu sebagai kakakku.” Banyak yang menganggap Zhao Yun dan nona Fan adalah pasangan serasi dan menyarankan Zhao Yun untuk memperistri nona Fan. Zhao Yun menjelaskan, “Zhao Fan baru menyerah. Niatnya belum jelas. Lagipula banyak wanita di dunia ini.” pada akhirnya ia tidak memperistri nona Fan. Kekhawatirannya menjadi kenyataan; Zhao Fan kemudian melarikan diri dariGuiyang.
Ketika Liu Bei masuk ke propinsi Yi, dia mengangkat Zhao Yun sebagai pengawas markasnya (Liuying Sima) di Gong'an . Istri Liu Bei waktu itu adalah Nona Sun, adik Sun Quan. Dipengaruhi karena reputasi dan kekuatan kakaknya, dia dan pengawalnya sering bertindak semena-mena, dan melanggar hukum. Liu Bei mempertimbangkan karena Zhao Yun serius, tegas dan loyal, Yun pasti dapat mengendalikan semuanya. Oleh karena itu, Liu Bei memberikan Zhao Yun otoritas untuk semua urusan internal di Gongan (di saat yang bersamaan untuk mengawasi Nona Sun and pengikutnya). Segera setelah itu Liu Bei meninggalkan Propinsi Jing, Sun Quan secara rahasia memanggil adiknya untuk kembali. Nona Sun memutuskan untuk membawa Liu Shan, namun Zhao Yun dan Zhang Fei berhasil menghentikannya di sungai Yangtze dan menyelamatkan tuan muda mereka..
Zhao Yun diangkat menjadi “General Yijun” setelah Liu Bei mendapatkan Chengdu. Pada waktu yang sama anak buah Liu Bei menyarankan agar para perwira dihadiahkan lahan dan properti disekelilingChengdu supaya mereka bisa menempatinya. Zhao Yun menyarankan untuk mengembalikannya pada rakyat karena mereka telah menderita oleh perang dan Liu Bei menyetujuinya..
Pada 219, Liu Bei dan Cao Cao berperang untuk wilayah Hanzhong. Cao Cao mempunyai banyak perbekalan di Gunung utara. Zhao Yun mengirim pasukannya bersama Huang Zhong, salah satu Jendral besar Liu Bei, untuk menyerang tentara Cao Cao dan merebut persediaan. Huang Zhong tidak kembali pada waktunya. Zhao Yun bersama segelintir pasukannya pergi mencari Huang Zhong. Zhao Yun bertemu dengan pasukan pelopor Cao Cao. Tidak berapa lama mereka bertempur, Tentara utama Cao Cao tiba. Situasi menjadi sangat genting untuk Zhao Yun, karena dia dan anak buahnya kalah jumlah. Zhao Yun memutuskan untuk menyerang barisan depan tentara Cao Cao membuat mereka terkejut oleh serangan ini dan berpencar sementara. Namun tak lama mereka bergabung kembali dan mengepung Zhao Yun. Zhao Yun berjuang untuk keluar dan kembali ke kemahnya. Ketika dia tahu salah seorang perwiranya Zhang Zhu terluka dan tertinggal ia kembali untuk menyelamatkannya.
Tentara Cao Cao mengejar Zhao Yun sampai ke kemahnya. Pada saat itu administrator Mianyang, Zhang Yi, ada di Kemah Zhao Yun. Zhang Yi berpikir untuk menutup semua gerbang guna menghadapi serangan Cao Cao. Namun sekembalinya, Zhao Yun memerintahkan semua bendera diturunkan dan disembunyikan, semua drum perang diam, dan gerbang dibiarkan terbuka sementara ia sendiri berdiri di gerbang. Curiga akan adanya jebakan, Cao Cao dan tentaranya mundur. Melihat ini Zhao Yun memerintahkan anak buahnya memukul genderang perang sekeras2xnya, dan para pemanahnya menembaki tentara Cao Cao. Terkejut oleh serangan ini tentara Wei tercerai berai. Ketika berusaha kabur, tentara Wei tergesa-gesa menuju sungai Han, dan karena kebingungan dan kepanikan banyak yang tercebur dan tenggelam..
Sehari setelah pertempuran, Liu Bei tiba untuk melihat medan pertempuran. Dia berkata, “Zilong memiliki keberanian dari yang paling berani.” Liu Bei memerintahkan perayaan, lengkap dengan anggur dan musik sampai larut malam, untuk Zhao Yun. Sejak saat itu, Tentara Liu Bei menjuluki Zhao Yun “The General with the Might of a Tiger”.
Pada 221 Liu Bei memproklamirkan dirinya sebagai kaisar Shu Han. Pada saat yang sama menyatakan perang kepada Sun Quan untuk membalas kematian Guan Yu dan propinsi Jing. Zhao Yun berusaha untuk mencegah Liu Bei berperang, dan menyerang Wei lebih dulu. Liu Bei menolak dan tetap berperang dengan Wu. Dia meninggalkan Zhao Yun untuk mengawasi Jiangzhou. Setelah Liu Bei kalah oleh Lu Xun pada pertempuran Yiling, Zhao Yun dan tentaranya menuju Yong'an. Pada saat itu, tentara Wu telah mundur karena serangan Wei.
Liu Bei meninggal pada 223, dan anaknya Liu Shan meneruskan tahtanya. Tahun itu, Zhao Yun diberi pangkat “General who Conquers the South”, dan Komandan militer utama. Dia juga dianugerahi gelar “Marquis of Yongchang Ting”. Tak lama, Zhao Yun dipromosikan menjadi “General who Guards the East.” Pada 227, Zhao Yun ikut serta bersama Zhuge Liang Ke HanZhong untuk mempersiapkan Ekspedisi ke Utara yang pertama. Tahun berikutnya, Zhuge Liang mengirim Zhao Yun ke Jigu untuk mengalihkan perhatian tentara Wei yang dipimpin Cao Zhen. Tentara utama Zhuge Liang mengalami kekalahan di Jieting karena kecerobohan Ma Su. Pada saat yang sama melawan lawan yang lebih banyak dan terlatih, Zhao Yun tidak mampu memperoleh kemenangan dan memutuskan untuk mundur tentara Wei mengejar. Namun, Zhao Yun segera mengumpulkan tentaranya dan mempertahankan posisi mereka dengan gigih. 
Ketika Pasukan Zhao Yun sampai di Han Zhong, Zhuge Liang sangat terkesan karena tentara utama Zhao Yun tidak tercerai-berai dan dapat kembali dengan korban yang minimal. Ketika ditanyakan kepada anak buahnya semua menjawab karena Zhao Yun dengan gigih menjaga mereka waktu mundur. Zhuge Liang berkata, “Sungguh seorang Jenderal yang hebat.” Ia menghadiahi Zhao Yun dengan emas dan 10.000 kain sutera untuk tentaranya. Namun Zhao Yun mengembalikan semuanya sambil berkata, “Seluruh tentara mengalami kekalahan, Dan itu merupakan kesalahan kami juga. Aturan mengenai penghargaan dan hukuman harus ditaati. Aku berharap agar hadiah ini disimpan hingga musim dingin, dimana nanti bisa dibagikan kepada tentara." Ketika Kaisar Liu Bei masih hidup, Ia tidak pernah lelah memuji kebajikan dan jasa Zhao Yun. Kaisar Liu Bei sangat benar," kata Zhuge Liang. Dan Zhuge Liang bertambah kagum pada Zhao Yun.
Pada 229 AD, Zhao Yun meninggal di Han Zhong dan kesedihan menyelimuti tentara Shu. Zhuge Liang sangat sedih sambil menangis dia berkata, “Temanku telah tiada. Negara kita telah kehilangan salah satu pilarnya, dan untukku tangan kananku!" Zhao Yun menerima gelar anumerta Marquis Shunpingdari Liu Shan pada 261.

Guan Yu


Guan Yu / Kan’u unchouu



Quote:
Guan Yu adalah seorang jenderal yang melayani di bawah panglima perang Liu Bei selama akhir Dinasti Han Timur dan era Tiga Kerajaan. Ia memainkan peran penting dalam perang yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Han dan pembentukan Kerajaan Shu, dimana Liu Bei adalah kaisar pertama.

Sebagai salah satu tokoh sejarah Cina yang paling dikenal di seluruh Asia Timur, Kisah kehidupan Guan Yu telah diwariskan secara turun-temurun di mana perbuatan dan kualitas moralnya telah dibuktikan.


Guan Yu didewakan sejak Dinasti Sui dan masih disembah oleh orang-orang Cina saat ini, terutama di Cina bagian selatan. Dia dihormati sebagai lambang kesetiaan dan kebenaran.

Penampilan Fisik:

Guan Yu secara tradisional digambarkan sebagai seorang gagah berwajah merah dengan janggut subur panjang. Sementara janggutnya benar-benar disebut dalam Catatan Tiga Kerajaan, ide wajahnya yang merah mungkin berasal dari deskripsi dalam Bab Salah satu Kisah Tiga Kerajaan, di mana muncul kalimat berikut:
“Xuande melirik laki-laki, yang berdiri di ketinggian sembilan chi (1 chi = 0,3333m jadi tinggi Guan Yu hampir 3 meter), dan memiliki dua chi (0.7 m) jenggot panjang; wajahnya seperti warna Jujube, dengan bibir merah ; matanya seperti mata phoenix, ] dan alisnya mirip ulat sutra. Dia punya aura yang bermartabat dan tampak sangat perkasa.” 
Mungkin juga, gagasan wajahnya yang merah bisa dipinjam dari opera2x China, di mana wajah-wajah merah menggambarkan kesetiaan dan kebenaran. Konon, senjata Guan Yu adalah sebuah guandao bernama Green Dragon Crescent Blade, yang menyerupai tombak dan dikatakan memiliki berat 82 kati (sekitar 49,5 kg atau 109 lbs). Sebuah replika kayu dapat ditemukan di Kuil Kaisar Guan di Xiezhou County, Cina. Ia digambarkan mengenakan jubah tradisional berwarna hijau di atas pelindung tubuh, seperti yang digambarkan dalam Kisah Tiga Kerajaan.




Dalam Kisah Tiga Negara

Novel sejarah Kisah Tiga Negara ditulis oleh Luo Guanzhong memuliakan Guan Yu dengan menggambarkan dia sebagai orang jujur dan setia. Berikut ini adalah beberapa cerita yang melibatkan Guan Yu dari novelnya:

Early life

Dalam Bab 1, Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei bertemu di Zhuo County dan mengambil sumpah persaudaraan di Peach Garden, dengan demikian ia menjadi saudara dengan Liu Bei dan Zhang Fei. Diantara mereka bertiga Guan Yu . Sumpah ini menjadi prinsip penuntun untuk Guan Yu dan mempengaruhi sebagian besar kehidupannya di kemudian hari. Guan Yu berpegang teguh pada sumpah ini sampai kematian-Nya dan selalu setia kepada sumpah ini.

Dalam Bab 5, Guan Yu membuat namanya terkenal dengan membunuh panglima yang tampaknya tidak terkalahkan Jendral Hua Xiong dalam kampanye melawan Dong Zhuo. Ketika itu Yuan Shao tidak percaya bahwa Guan Yu bisa mengalahkan Hua Xiong, begini kutipan dari novelnya:

”Sebuah penghinaan untuk kita semua!” Seru Yuan Shao dari tempat duduknya. “Apa kita tidak mempunyai panglima lagi? Beraninya seorang pemanah berkuda (Jabatan Guan Yu waktu itu hanya seorang pemanah berkuda alias prajurit biasa) berbicara demikian? Ayo kita eksekusi dia!”

Tapi Cao Cao menengahi, “Tenang tuan Yuan Shao! Karena pria ini berbicara demikian, dia tentunya tangguh. Biar dia mencoba. Kalau dia gagal, barulah kita hukum dia.”

“Hua Xiong akan mentertawakan kita kalau mengirim prajurit biasa melawannya.” Kata Yuan Shao

“Orang ini tidak kelihatan seperti prajurit biasa. Bagaimana musuh tahu kalau dia hanya prajurit biasa?” Kata Cao Cao

“Bila aku gagal tuan bisa memenggal kepalaku!” Kata Guan Yu.

Cao Cao meminta pelayan menghangatkan anggur dan memberikannya pada Guan Yu sebelum dia pergi.

“Letakkan saja disitu,” Kata Guan Yu “Aku akan segera kembali.”

Guan Yu pergi dengan senjatanya dan melompat ke kudanya. Mereka yang di tenda itu mendengar deru genderang perang dan suara keras seperti langit runtuh dan bumi bergetar, bukit2x gemetar dan gunung terpecah-belah. Dan mereka semua ketakutan. Ketika mereka mendengar dengan seksama, suara denting bel kuda terdengar, dan Guan Yu kembali, membawa kepala dari musuh mereka Hua Xiong.

Anggurnya masih hangat


Kemudian, ketiga bersaudara ini bersumpah menantang Jenderal perkasa Lü Bu di Hulao Pass dan berhasil memaksa Lü Bu untuk mundur meskipun mereka tidak pernah mengalahkan dia.

Ketika berada di bawah Cao Cao

Dalam Bab 25, Cao Cao menyerang wilayah Liu Bei dari Xuzhou dan mengalahkan pasukan Liu Bei. Ketiga bersaudara ini pun terpisah sementara. Guan Yu bertugas membela Xiapi, di mana istri Liu Bei diberi tempat tinggal. Guan Yu dipancing keluar dari kota dan terkepung di bukit dekatnya sementara kota ini jatuh ke pasukan Cao Cao. Cao Cao mengirim Zhang Liao untuk membujuk Guan Yu untuk menyerah. Guan Yu mengkhawatirkan keselamatan saudara perempuannya mertuanya ketika ia melihat bahwa sebagai tanggung jawabnya. Setelah banyak pertimbangan, Guan Yu setuju untuk tunduk kepada Cao Cao dengan tiga syarat:

  1. Dalam nama, Guan Yu menyerahkan kepada Emperor Xian (yang sebenarnya penguasa boneka di Cao Cao kontrol) dan tidak untuk Cao Cao.
  2. Istri Liu Bei tidak boleh dirugikan dengan cara apapun. Mereka harus diperlakukan dengan penuh hormat dan kehormatan.
  3. Jika Guan Yu berhasil menemukan keberadaan Liu Bei (yang nasibnya belum diketahui setelah pertempuran) suatu hari, ia akan meninggalkan Cao Cao agar bisa bersatu dengan saudara angkatnya itu.

Cao Cao setuju untuk syarat2x ini meskipun ia merasa cemas untuk syarat yang terakhir. Guan Yu kemudian diserahkan kepada Cao Cao dan bertugas kepada Cao Cao untuk jangka waktu yang singkat. Oleh Cao Cao, Guan Yu diperlakukan dengan sangat hormat dan diberikannya kepada Guan Yu hadiah2x, kemewahan dan wanita, serta kuda yang terkenal Red Hare yang dulu milik Lü Bu. Guan Yu tidak terlalu kesan terhadap hadiah-hadiah Cao Cao, tetapi ketika Cao Cao memberinya kuda Red Hare, ia berlutut dan berterima kasih Cao Cao. Ketika Cao Cao bertanya alasannya, Guan Yu menjawab, "Tuan, saya sangat berterima kasih kepada Anda untuk tunggangan ini karena dengan itu, aku bisa mencapai saudara angkat saya dalam jangka waktu yang lebih singkat jika saya tahu di mana dia berada.” Cao Cao agak menyesal setelah mendengar hal ini namun ia tak dapat menarik hadiah itu kembali.

Juga dalam Bab 25, dalam pertempuran antara pasukan Cao Cao dan panglima perang Yuan Shao di tepi Sungai Kuning, jendral Cao Cao dikalahkan oleh Jendral pasukan Yuan Shao, Yan Liang. Cao Cao ingin mengirim Guan Yu untuk menantang Yan Liang tapi ia ragu-ragu karena dia tidak ingin Guan untuk membuat kontribusi. Guan sebelumnya mengatakan bahwa ia akan menunjukkan rasa terima kasih kepada Cao Cao dengan membuat beberapa kontribusi untuk Cao Cao sebelum ia dapat pergi. Namun demikian, dengan terpaksa Cao Cao mengutus Guan Yu untuk melawan Yan Liang dan Guan Yu menang, membunuh Yan Liang dan kembali dengan kepalanya. Dalam bab berikut, Wen Chou, Jendral Yuan Shao lainnya datang untuk membalaskan dendam kematian Yan Liang. Wen mengalahkan beberapa panglima terbaik Cao Cao termasuk Zhang Liao dan Xu Huang. Guan Yu membuat kontribusi besar lainnya kepada Cao Cao dengan membunuh Wen Chou.

Melewati 5 Gerbang dan membunuh Enam Jenderal

Dalam Bab 26, Guan Yu akhirnya menerima kabar bahwa Liu Bei masih hidup dan saat ini berada dalam perlindungan Yuan Shao. Guan memutuskan untuk meninggalkan Cao Cao bersama-sama dengan istri-istri Liu Bei untuk bergabung dengan Liu Bei. Guan Yu mencoba menyampaikan perpisahan Cao Cao secara pribadi sebelum berangkat, tapi Cao Cao tidak memberinya kesempatan untuk melakukannya. Frustrasi, Guan Yu akhirnya menulis surat perpisahan untuk Cao Cao dan pergi. Ia tidak membawa satu pun barang2x dan hadiah pemberian Cao Cao, kecuali Red Hare. Dia bahkan melepaskan gelar sebagai Marquis of Han Shoudengan meninggalkan segel resminya. Bawahan Cao Cao merasa bahwa Guan Yu bersikap terlalu kasar dan arogan dengan meninggalkan tanpa mengucapkan selamat tinggal dan ingin mengejar dia dan membawanya kembali. Namun, Cao Cao tahu bahwa tidak ada yang bisa menghentikan keinginan Guan Yu dan ia memberi perintah untuk para pejabat di sepanjang jalan untuk memberi jalan kepada Guan Yu.

Guan Yu berkuda di samping kereta membawa istri2x Liu Bei dan mengantar mereka dengan selamat sepanjang jalan. Pertama adalah mereka mencapai Dongling Pass (东岭关, sekarang selatan Dengfeng, Henan). Petugas penjaga Kong Xiu menolak untuk mengizinkan Guan Yu karena Guan tidak punya izin resmi dengan dia. Marah, Guan Yu membunuh Kong Xiu dan memaksa melewati jalan.

Mereka tiba di kota Luoyang berikutnya. Gubernur Han Fu membawa 1.000 pria untuk blokade jalan Guan Yu. Bawahan Han Meng Tan menantang Guan Yu berduel tapi ditebas menjadi dua oleh Guan. Sementara Guan bertarung dengan Meng, Han Fu diam-diam membidik dan menembak panah di Guan Yu. Panah mengenai lengan Guan Yu dan melukai dirinya, tetapi Guan Yu menarik panah dari lukanya dan berikutnya membunuh Han Fu. Para prajurit terkejut segera memberi jalan dan mereka melewati dengan aman.

Rombongan Guan Yu tiba di Sishui Pass (汜水, sebelah utara sekarang Xingyang, Henan). Petugas penjaga Bian Xi menerima rombongan Guan Yu dengan sambutan yang hangat dan mengundang Guan ke sebuah pesta di kuil di luar pos. Tetapi, Bian Xi telah memerintahkan 200 dari anak buahnya bersembunyi di dalam kuil untuk membunuh Guan Yu. Untungnya, salah seorang biarawan bernama Pujing, yang juga berasal dari kampung halaman Guan Yu, mengisyaratkan untuk Guan Yu akan bahaya yang tersembunyi. Penyergapan gagal dan Guan Yu membunuh Bian Xi dan melewati Sishui Pass.

Gubernur Xingyang, Wang Zhi, mengadopsi skema yang sama untuk membunuh Guan Yu. Seperti Bian Xi, ia berpura-pura ramah terhadap Guan Yu dan Guan Yu memimpin partai ke sebuah rumah yang sudah disediakan bagi mereka untuk menetap di malam. Setelah itu, Wang memerintahkan bawahannya Hu Ban untuk memimpin 1.000 pria untuk mengepung rumah itu diam-diam dan membakarnya di tengah malam. Penasaran ingin tahu bagaimana rupa Guan Yu yang terkenal, Hu Ban mencuri pandang pada Guan Yu. Guan melihat Hu Ban dan mengundangnya ke dalam ruangan. Guan Yu telah bertemu ayah Hu sebelumnya dan membawa surat ayah Hu dengannya. Dia memberikan surat kepada Hu Ban, setelah membacanya Hu Ban memutuskan untuk membantu Guan Yu. Hu Ban mengungkapkan rencana jahat Wang Zhi dan membuka gerbang kota diam-diam untuk Guan Yu dan rombongannya pergi. Wang Zhi menyusul beberapa saat kemudian, tetapi Guan Yu berbalik dan membunuhnya.

Rombongan Guan Yu akhirnya tiba di tempat penyeberangan di tepi selatan Sungai Kuning. Qin Qi, petugas yang bertanggung jawab, menolak untuk mengizinkan Guan Yu untuk menyeberangi sungai dan terbunuh oleh Guan Yu yang marah. Guan Yu dan rombongannya lalu menyeberangi sungai dengan aman dan masuk ke wilayah Yuan Shao. Namun, mereka segera menyadari bahwa Liu Bei tidak lagi berada di wilayah Yuan dan telah pergi untuk Runan. Guan Yu dan rombongannya kemudian membuat perjalanan panjang mereka kembali dan akhirnya dipersatukan kembali dengan Liu Bei dan Zhang Fei di Gucheng.

Melepaskan Cao Cao di lembah Huarong

Dalam Bab 50, setelah menderita kekalahannya dalam Pertempuran Red Cliffs, Cao Cao melarikan diri dengan prajuritnya yang masih hidup ke arah kota Jiangling. Ahli strategi militer utama Liu Bei Zhuge Liang telah meramalkan kekalahan Cao Cao dan memperkirakan rute pelarian Cao Cao. Dia memerintahkan Guan Yu untuk memimpin 5.000 pria dan bersembunyi untuk menyergap di sepanjang Huarong Trail, jalan sempit di hutan mengarah Jiangling. Sebelum keberangkatannya, Guan Yu membuat sumpah militer berjanji bahwa ia tidak akan mengingat kebajikan Cao Cao kepadanya. Jika ia gagal melakukannya, ia akan menghadapi hukuman mati di bawah hukum militer. Seperti yang diharapkan, Cao Cao melewati lembah Huarong setelah disergap oleh Zhao Yun dan Zhang Fei di sepanjang rute melarikan diri.

Cao Cao dan anak buahnya bertemu Guan Yu dan pasukannya. Cao Cao berbicara kepada Guan Yu dan memohon padanya untuk mengampuni hidupnya dan mengingatkannya tentang hubungan masa lalu mereka. Guan Yu terharu ketika ia ingat kebaikan yang ia terima dari Cao Cao. Juga, ketika ia melihat penderitaan Cao Cao yang baru kalah dan Zhang Liao, yang sebelumnya ia diselamatkan dari kematian, dia memutuskan untuk membiarkan Cao Cao dan anak buahnya untuk pergi. Setelah kembali, Guan Yu mengaku bersalah telah melanggar janji yang dibuat sebelumnya dan menyatakan kesediaannya untuk menerima eksekusi. Namun, dengan campur tangan Liu Bei dan Zhang Fei, Zhuge Liang memutuskan untuk mengampuni Guan Yu mengingat jasa Guan Yu di masa lalunya. Sebenarnya Zhuge Liang telah menduga Guan Yu akan melepaskan Cao Cao dan ia memang sengaja agar Guan Yu dapat membuktikan belas kasihnya dan mempercepat pembentukan Tiga Kerajaan.

Hua Tuo mengobati lengan Guan Yu

Dalam Bab 75, selama pengepungan pada Fancheng (樊城, sekarang Xiangfan, Hubei), lengan Guan Yu terluka oleh sambaran panah yang ditembakkan oleh musuh. Panah itu segera dicabut tapi racun yang dioleskan pada mata panah sudah meresap ke dalam lengan Guan Yu. Guan Yu tidak mau memerintahkan pasukannya untuk mundur sehingga bawahannya mencari seorang tabib untuk mengobati lukanya. Tabib yang terkenal Hua Tuo muncul tepat pada waktu dan menawarkan diri untuk merawat luka Guan Yu.

Hua Tuo mendiagnosa bahwa dia perlu melakukan operasi pada lengan Guan Yu, dengan memotong membuka dan mengorek daging dari sisa-sisa racun pada tulang. Hua juga menyarankan bahwa Guan Yu akan menutup mata dan mengikat lengannya erat-erat karena akan dilakukan operasi dan tidak adanya anestesi juga sebagian besar pasiennya tidak dapat tahan rasa sakit luar biasa dari operasi itu. Namun, Guan Yu meminta agar operasi dilakukan di tempat dan ia terus melanjutkan permainan Weiqi dengan Ma Liang selama operasi. Sepanjang operasi, mereka yang menonton di dekatnya merasa ngeri saat mereka menyaksikan adegan mengerikan di depan mereka, tetapi Guan Yu tetap tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit sama sekali. Akhirnya, Hua Tuo berhasil menyembuhkan luka Guan Yu dan menjahitnya setelah menerapkan pengobatan dan kemudian pergi tanpa menerima imbalan apapun.

The Death Of the God Of War

Sebelum berangkat menyerang Fancheng atas perintah Liu Bei, Sun Quan mengirim utusan kepada Guan Yu untuk menikahkan anaknya dengan anak perempuan Guan Yu. Namun Guan Yu menolaknya dengan keras bahkan hampir membunuh utusan itu sambil berkata, "Mana bisa anak macan (anaknya) dikawinkan dengan anak anjing (anak Sun Quan)!" Untunglah utusan tersebut berhasil diselamatkan oleh Guan Ping dan Wang Lei. Akibat hal ini Sun Quan merasa sakit hati dan berniat merebut JingZhou

Guan Yu menemui ajalnya di Maicheng, Ketika ia sedang menggempur istana Fan yang di jaga oleh Cao Ren ia mengalami kekalahan dari pasukan bala bantuan Wei yang dipimpin oleh Xu Huang. Ditambah lagi pasukan Wu yang dikomandoi oleh Lu meng berhasil merebut Jing karena dibantu oleh Mi Fang dan Fu Shiren anak buah Guan Yu yang membelot.

Terdesak dengan sedikit perbekalan dan prajurit Guan Yu mencoba melarikan diri ke Yizhou (Shu) namun Lu Meng telah memperkirakan hal ini dan menempatkan pasukan di tempat yang dilalui oleh Guan Yu. Guan Yu dan anaknya Guan Ping berhasil ditangkap oleh Pan Zhang, lalu mereka berdua di hukum mati oleh Sun Quan. Sampai akhir hayatnya ia menolak untuk menyerah kepada Sun Quan karena kesetiannya pada Liu Bei.

Pencerahan di Yuqian Hill

Dalam Bab 77, setelah kematian Guan Yu di tangan Sun Quan, penguasa Wu, rohnya menjelajahi wilayah, sambil berteriak, "Kembalikan kepalaku!". Rohnya datang ke Bukit Yuquan luar Dangyang County (sekarang Dangyang, Hubei), dan ditemui Pujing, biarawan yang menyelamatkan hidupnya beberapa tahun lalu di Sishui Pass. Pujing berbicara dengan lembut, "Sekarang Anda meminta kepala Anda, tapi dari siapakah Yan Liang, Wen Chou, para penjaga perbatasa dan banyak orang lain meminta kepala mereka?" Jiwa Guan dengan demikian tercerahkan dan menghilang, tapi selanjutnya terwujud di sekitar bukit dan melindungi penduduk setempat dari yang jahat. Penduduk setempat membangun sebuah kuil di atas bukit untuk menyembah roh.

Rahib Pujing dikatakan telah membangun sebuah gubuk untuk dirinya sendiri di kaki tenggara Yuquan Hill selama tahun-tahun terakhir Dinasti Han Timur. The Yuquan Temple (玉泉寺), kuil tertua di daerah Dangyang dari tempat pemujaan Guan Yu berasal, dibangun di lokasi yang tepat dari pondok, dan konstruksi telah selesai hanya sampai Dinasti Sui.

Setelah kematian

Dalam Bab 77, setelah Wu merebut Jingzhou dan dibunuh Guan Yu, penguasa Sun Quan mengadakan sebuah perjamuan untuk merayakan kemenangan untuk menghormati komandan militer Lü Meng, yang merencanakan serangan terhadap Jingzhou. Ketika pesta berlangsung, Guan Yu merasuki Lü Meng dan menawan Sun Quan. Ketika yang lain bergegas ke depan untuk menyelamatkan Sun Quan, Lü Meng yang kerasukan bersumpah akan membalas dendam sebelum ambruk ke lantai. Beberapa saat kemudian, Lü Meng meninggal. Sun Quan sangat ketakutan dan dia mengirim kepala Guan Yu kepada Cao Cao, berharap untuk mendorong tanggung jawab kematian Guan Yu ke Cao dan menabur perselisihan antara Shu dan Cao Cao.

Ketika Cao Cao membuka kotak yang berisi kepala Guan Yu, ia melihat ekspresi wajah Guan menyerupai orang yang hidup. Dia tersenyum dan berbicara ke kepala, "Saya harap Anda baik-baik saja sejak terakhir kita berpisah." Namun tiba2x, kepala Guan Yu membuka mata dan mulut dan janggut panjang dan rambut berdiri di ujungnya. Cao Cao terjatuh dan tidak sadarkan diri, ia baru kembali sadar setelah waktu yang lama. Setelah sadar, ia berseru, "Jenderal Guan adalah benar-benar seorang dewa dari surga!" Lalu ia memerintahkan kepala untuk dimakamkan dengan penghormatan selayaknya seorang pangeran.


Zhuge Liang - The Sleeping Dragon

Zhuge Liang - The Sleeping Dragon
(181 - 234 A.D)






Zhuge Liang (181–234) adalah seorang Perdana Menteri negara Shu Han pada masa Tiga Kerajaan (Sam Kok) dalam sejarah Cina. Dia sering dikenal sebagai ahli strategi terhebat dan terbaik pada masa tersebut.

Sering digambarkan mengenai jubah Taois dan sebuah kipas tangan dari bulu bangau, Zhuge Liang bukan hanya seorang ahli strategi militer dan ahli politik; dia juga seorang pelajar dan penemu. Reputasinya sebagai seorang penemu dan pelajar yang ternama tumbuh meski ia masih hidup dalam tempat terpencil, membuatnya dijuluki dengan nama "Wolong" (臥龍; atau: "Crouching Dragon").

Zhuge adalah sebuah nama yang tidak umum untuk nama keluarga karena terdiri dari dua huruf(Cina). Nama Zhuge telah menjadi sinonim dengan kepandaian dan strategi dalam budaya Cina.

Early Life:

Zhuge Liang dilahirkan di Yangdu, Langya Commandery (sekarang Yinan County, Shandong). Dia menjadi yatim piatu pada usia dini, dan dibesarkan oleh pamannya, Zhuge Xuan Dia mengikuti pamannya tinggal di Jing Propinsi bawah Liu Biao kemudian. Setelah pamannya meninggal, Zhuge Liang dan saudara-saudaranya menetap di Wolonggang (di masa kini-hari Henan) untuk sepuluh tahun mendatang atau lebih, hidup sederhana - pertanian di siang hari dan belajar di malam. dua kakak perempuan Zhuge Liang menikah dengan anggota klan yang berpengaruh dengan koneksi yang kuat di wilayah tersebut.



Kuil Marquis Wu di Chengdu, sebuah kuil pemujaan Zhuge Liang.

Zhuge Liang menikmati membaca Liangfu Yin (梁 父 吟), sebuah lagu rakyat yang populer di Shandong, tempat kelahirannya. Dia juga suka membandingkan dirinya untuk Guan Zhong dan Yue Yi, dua tokoh-tokoh sejarah terkenal. Ia mengembangkan persahabatan yang erat dengan anggota sastrawan lokal, seperti Xu Shu, Cui Zhouping, Meng Jian dan Shi Tao. Zhuge Liang juga mempertahankan hubungan dekat dengan para intelektual terkenal lainnya, seperti Sima Hui, Pang Degong dan Huang Chengyan. Huang Chengyan pernah berkata kepada Zhuge Liang, "Saya mendengar bahwa Anda sedang mencari pasangan, aku mempunyai seorang putri yang tidak cantik dengan wajah kuning dan kulit gelap, tapi bakatnya setara denganmu.." Zhuge Liang setuju dan menikahi putri Huang Chengyan.

Menjadi pegawai Liu Bei:

Pada saat itu, Liu Bei tinggal di Xin Ye saat dia berlindung di bawah Gubernur Provinsi Jing, Liu Biao. Liu Bei mengunjungi Sima Hui, yang mengatakan kepadanya, "Akademis Konghucu dan cendekiawan umum, berapa banyak yang mereka ketahui tentang urusan saat ini? Mereka yang menganalisis urusan saat ini dengan baik adalah Crouching Dragon dan Young Phoenix." Xu Shu juga merekomendasikan Zhuge Liang kepada Liu Bei, dan Liu ingin meminta Xu untuk mengundang Zhuge untuk bertemu dengannya. Namun, Xu Shu menjawab, "Anda harus mengunjungi orang ini secara pribadi. Ia tidak dapat diundang untuk bertemu Anda." Liu Bei berhasil merekrut Zhuge Liang di 207 setelah melakukan tiga kunjungan pribadi. Zhuge Liang menyajikan rencana Longzhong (Tiga kerajaan) kepada Liu Bei dan keluar dari kediamannya untuk mengikuti Liu. Setelah itu, Liu Bei menjadi sangat dekat dengan Zhuge Liang dan sering melakukan diskusi dengan dia. Guan Yu dan Zhang Fei tidak puas dan mengeluh. Liu Bei menjelaskan, "Sekarang aku sudah memiliki Kongming (nama style Zhuge Liang), itu hanya seperti ikan masuk ke air yang saya harap kalian berdua berhenti membuat pernyataan yang tidak menyenangkan.." Guan Yu dan Zhang Fei kemudian berhenti mengeluh.

Sebagai seorang Utusan:

Pada 208, Liu Biao meninggal dan digantikan oleh putranya yang paling kecil, Liu Cong, yang menyerahkan propinsi Jing kepada Cao Cao. Ketika Liu Bei mendengar Liu Cong menyerah, ia memimpin para pengikutnya (baik tentara dan warga sipil) pada sebuah eksodus selatan menuju Xiakou, bertemu dengan pasukan Cao Cao dalam pertempuran singkat pada Pertempuran Changban. Sementara di Xiakou, Liu Bei mengirim Zhuge Liang untuk mengikuti Lu Su untuk Jiangdong untuk membahas pembentukan aliansi antara dia dan Sun Quan.

Zhuge Liang bertemu dengan Sun Quan dalam Chaisang dan mengusulkan dua solusi untuk Sun, "Jika Anda dapat menggunakan kekuatan Wuyue untuk melawan Kerajaan Tengah, mengapa tidak memutuskan hubungan (dengan Cao Cao) terlebih dahulu? Jika Anda tidak dapat menentang, mengapa tidak demobilisasi tentara, membuang persenjataan dan menyerah ke utara?" Setelah penasihat Sun Quan, Zhou Yu, menganalisis situasi dan menunjukkan kelemahan dalam tentara Cao Cao, Sun akhirnya sepakat untuk bersekutu dengan Liu Bei dalam melawan Cao. Zhuge Liang kembali ke perkemahan Liu Bei dengan utusan Sun Quan, Lu Su, untuk membuat persiapan untuk perang mendatang.

Sebagai Petugas Logistik

Pada akhir 208, tentara sekutu Liu Bei dan Sun Quan memperoleh kemenangan atas pasukan Cao Cao pada Pertempuran Red Cliffs. Cao Cao mundur ke Ye, sementara Liu Bei melanjutkan untuk menaklukkan wilayah di Jiangnan, yang meliputi sebagian besar selatan Jing Propinsi. Zhuge Liang diangkat "Military Advisor General of the Household" (军师 中郎将). Dia ditugaskan mengatur Lingling (sekarang Yongzhou, Hunan), Guiyang dan markas Changsha dan mengumpulkan pajak untuk mendanai militer.

Pada 211, Liu Zhang, gubernur Provinsi Yi (sekarang meliputi Sichuan basin), meminta bantuan dari Liu Bei menyerang Zhang Lu dari Hanzhong. Liu Bei meninggalkan Zhuge Liang, Guan Yu, Zhang Fei dan lain-lain yang bertanggung jawab dari Jing Propinsi sementara dia memimpin pasukan ke Sichuan. Liu Bei segera menyetujui usulan Liu Zhang, namun diam-diam merencanakan untuk pengambilalihan tanah Liu Zhang. Tahun berikutnya, Liu Zhang mengetahui niat Liu Bei, dan keduanya berbalik bermusuhan dan mengobarkan perang satu sama lain. Zhuge Liang, Zhang Fei dan Zhao Yun memimpin pasukan terpisah untuk memperkuat Liu Bei dalam serangan terhadap ibukota Liu Zhang, Chengdu, sedangkan Guan Yu tetap tinggal untuk menjaga Jing Propinsi. Pada 214, Liu Zhang menyerah dan Liu Bei menguasai Yi Propinsi.

Liu Bei mengangkat Zhuge Liang menjadi "Penasehat Militer" (军师 将军) dan membiarkan dia mengurus urusan kantor pribadinya (office of the General of the Left (左 将军)). Setiap kali Liu Bei memulai kampanye militer, Zhuge Liang tetap tinggal untuk menjaga Chengdu dan menjamin aliran pasokan pasukan dan ketentuan. Pada 221, dalam menanggapi perebutan tahta Kaisar Xian oleh Cao Pi, bawahan Liu Bei menasehatinya untuk menyatakan dirinya kaisar. Setelah awalnya menolak, Liu Bei akhirnya dibujuk oleh Zhuge Liang untuk melakukannya dan menjadi penguasa Shu Han. Liu Bei mengangkat Zhuge Liang sebagai Perdana Menteri dan memberikan kepadanya tanggung jawab dari lembaga kekaisaran dimana Zhuge menjalankan fungsi sebagai Imperial Secretariat. Zhuge Liang diangkat "Director of Retainers" (司隶 校尉) setelah kematian Zhang Fei.

Menjadi Penasihat Liu Shan:

Pada musim semi tahun 222, Liu Bei mundur ke Yong'an (sekarang Fengjie County, Chongqing) setelah kekalahannya pada Pertempuran Xiaoting dan menjadi sakit parah. Dia memanggil Zhuge Liang dari Chengdu dan berkata kepadanya, "Kau sepuluh kali lebih berbakat dari Cao Pi, mampu dengan baik mengamankan negara dan menyelesaikan misi besar kita Kalau anak saya bisa dibantu, bantulah dia.. Jika ia terbukti tidak kompeten , maka Anda dapat mengambil alih takhta." Zhuge Liang menjawab sambil menangis," Saya akan melakukan yang terbaik dan melayani dengan kesetiaan tak tergoyahkan sampai mati. " Liu Bei kemudian memerintahkan putranya, Liu Shan, untuk mengatur negara urusan bersama-sama dengan Zhuge Liang dan menganggap Zhuge seperti ayahnya.

As a regent

Setelah kematian Liu Bei, Liu Shan naik ke tahta Shu Han. Dia memberikan Zhuge Liang pangkat sebagai "Marquis Wu" (武 乡侯) dan menciptakan sebuah kantor untuknya. Tidak lama kemudian, Zhuge Liang ditunjuk sebagai Gubernur Provinsi Yi dan bertanggung jawab atas semua urusan negara. Pada saat yang sama, beberapa kota di Nanzhong memberontak melawan Shu, namun Zhuge Liang tidak mengirim pasukan untuk menekan pemberontakan karena kematian Liu Bei baru saja terjadi. Dia mengirim Deng Zhi dan Chen Zhen untuk membuat perdamaian dengan Wu dan kembali memasuki aliansi dengan Wu. Zhuge Liang secara konsisten akan mengirimkan utusan ke Wu untuk meningkatkan hubungan diplomatik antara kedua negara.

Ekspedisi ke Selatan

Selama pemerintahannya sebagai regent, Zhuge Liang menetapkan tujuan Shu untuk merestorasi Dinasti Han, yang dari sudut pandang Shu, telah dirampas oleh Cao Wei. Dia merasa bahwa dalam rangka untuk menyerang Wei, suatu penyatuan lengkap Shu pertama yang dibutuhkan. Zhuge Liang khawatir bahwa suku lokal akan bekerja dengan suku-suku Nanman di Nanzhong ke tahap revolusi. Khawatir kemungkinan bahwa para petani akan memberontak dan menekan ke dalam daerah sekitar ibukota Chengdu sementara ia menyerang Wei di utara, Zhuge Liang memutuskan untuk menenangkan suku-suku selatan terlebih dahulu.

Pada musim semi 225, klan regional termasuk Yong, Gao, Zhu, dan Meng telah menguasai beberapa kota di selatan, sehingga Zhuge Liang memimpin pasukan ekspedisi untuk Nanzhong. Ma Su mengusulkan bahwa mereka harus berusaha untuk memenangkan hati Nanman dan menggalang dukungan mereka daripada menggunakan kekuatan militer untuk menundukkan mereka. Zhuge Liang memperhatikan saran Ma Su dan mengalahkan pemimpin pemberontak, Meng Huo, di tujuh kesempatan yang berbeda. Dia membebaskan Meng Huo setiap kali untuk benar-benar menaklukan Meng. Perhatikan bahwa cerita tentang Meng Huo dan penangkapannya ditolak sebagai referensi historis yang dapat diandalkan dan akurat oleh mayoritas akademik, termasuk sejarawan seperti Miao Yue, Tan Liangxiao, dan Zhang Hualan.

Menyadari ia tidak punya kesempatan untuk menang, Meng Huo berjanji setia kepada Shu, dan diangkat oleh Zhuge Liang sebagai gubernur wilayah untuk menjaga kedamaian rakyat dan mengamankan perbatasan selatan Shu. Hal ini akan memastikan bahwa masa depan akan Ekspedisi Utara melanjutkan tanpa gangguan internal. persediaan dan sumber daya berlimpah yang diperoleh dari Nanzhong digunakan untuk mendanai militer Shu dan negara tersebut menjadi lebih sejahtera.

Ekspedisi ke Utara dan kematian
Setelah menenangkan Nanman, Zhuge Liang Shu memerintahkan militer untuk membuat persiapan untuk melakukan serangan skala besar terhadap negara pesaing, Wei. Pada 227, sementara di Hanzhong, ia menulis sebuah memorial, berjudul Chu Shi Biao, kepada Liu Shan, menyatakan alasan nya untuk ekspedisie dan memberi nasihat kepada kaisar untuk menjaga pemerintahan yang baik. Dari 228 sampai kematiannya pada 234, Zhuge Liang meluncurkan total lima Ekspedisi ke Utara melawan Wei, semua kecuali satu yang gagal. Satu-satunya keuntungan permanen dengan Shu adalah penaklukan Wudhu dan prefektur Yinping, serta relokasi warga Wei untuk Shu pada beberapa kesempatan. Namun, dibalik kekalahannya tentara Zhuge Liang tidak pernah menderita korban lebih dari 5% dari kekuatan total. Dan sumber daya yang dialokasikan ke dalam militer mencukupi (dengan asumsi Shu puncaknya di 200.000 kekuatan militer.)

Selama Ekspedisi ke Utara yang pertama, Zhuge Liang membujuk Jiang Wei, seorang perwira muda militer Wei, untuk menyerah dan mengabdi kepadanya. Jiang Wei menjadi seorang jenderal terkemuka Shu kemudian dan mewarisi cita-cita Zhuge Liang. Pada akhir 234, Zhuge Liang dan Sima Yi (komandan Wei) menemui sebuah jalan buntu pada Pertempuran Wuzhang. Zhuge Liang jatuh sakit parah dan akhirnya meninggal di kamp pada usia 53. Sebelum kematiannya, Zhuge Liang merekomendasikan Jiang Wan dan Fei Yi untuk menggantikannya sebagai bupati Shu. Dia dimakamkan di Gunung Dingjun sesuai dengan keinginannya dan dianugerahi gelar anumerta "Loyal and Martial Marquis" (忠 武侯) oleh Liu Shan.

Legacy:

Penemuan

Zhuge Liang diyakini sebagai penemu mantou (Bakpao)ranjau darat dan perangkat transportasi misterius tapi efisien yang otomatis (awalnya digunakan untuk biji-bijian) disebut sebagai "wooden ox and flowing horse" (木 牛 流 马), yang kadang-kadang diidentifikasi dengan gerobak dorong.

Meskipun ia sering dikatakan sebagai penemu panah berulang yang dinamai menurut namanya dan disebut "Zhuge Crossbow (Chu Ko Nu)", jenis panah semi-otomatis ini adalah versi perbaikan dari model yang pertama kali muncul selama Warring states (Meski terjadi perdebatan mengenai apakah panah semi otomatis pada masa Warring States dapat menembak berulang atau menembak beberapa panah sekaligus). Namun demikian, versi Zhuge Liang bisa menembak jauh dan lebih cepat.


A repeating crossbow

Zhuge Liang juga dikatakan sebagai dengan pembangun stone sentinel maze yang misterius, sebuah formasi dari tumpukan batu yang dikatakan menghasilkan fenomena supranatural, yang terletak dekat Baidicheng.

Sebuah tipe awal dari balon udara panas yang digunakan untuk sinyal militer, yang dikenal sebagai lentera Kongming, juga dinamai dengan namanya. Hal itu dikatakan ditemukan oleh Zhuge Liang ketika ia terjebak oleh Sima Yi di Pingyang. Pasukan teman yang berada didekatnya melihat pesan di kertas meliputi lentera dan datang membantu Zhuge Liang. Keyakinan lain adalah bahwa lentera mirip hiasan kepala Zhuge Liang, sehingga bernama setelah dia

In Fiction:

Kebijaksanaan dan prestasi Zhuge Liang dipopulerkan oleh novel sejarah Romance dari Tiga Kerajaan, Luo Guanzhong yang ditulis selama Dinasti Ming. Novel ini berdasarkan sumber-sumber sejarah, termasuk Catatan tentang Tiga Kerajaan oleh Chen Shou. Pengaruh utama lainnya termasuk karya Liu Yiqing "A New Account of the Tales of the World", dan Sanguozhi Pinghua, koleksi kronologis 80 sketsa dimulai dengan Sumpah dari Taman Peach dan berakhir dengan kematian Zhuge Liang.

Beberapa account fiktif yang melibatkan Zhuge Liang dari Roman Tiga Kerajaan meliputi:

Meminjam anak panah dengan perahu Jerami

Sebelum Pertempuran Red Cliffs, Zhuge Liang mengunjungi kamp Sun Quan untuk membantu Zhou Yu. Zhou Yu cemburu bakat Zhuge Liang dan merasa bahwa Zhuge akan menjadi ancaman bagi junjungannya di masa depan. Dia menugaskan Zhuge Liang tugas untuk membuat 100.000 anak panah dalam sepuluh hari atau akan di eksekusi bila gagal dalam tugas-tugas di bawah hukum militer. Zhuge Liang berjanji bahwa ia bisa menyelesaikan misi dalam tiga hari. Dengan bantuan dari Lu Su, Zhuge Liang menyiapkan 20 kapal besar, masing-masing dijaga oleh beberapa prajurit dan diisi dengan manusia-seperti tokoh yang terbuat dari jerami dan jerami.

Saat fajar, ketika ada kabut besar, Zhuge Liang mengerahkan perahu dan mereka berlayar menuju perkemahan Cao Cao di sungai. Dia memerintahkan pasukan untuk menabuh genderang perang dengan keras dan berteriak meniru suara serangan. Setelah mendengar kebisingan, pasukan Cao Cao bergegas keluar untuk menghadapi musuh, tetapi mereka tak yakin kekuatan musuh, karena visi mereka dikaburkan oleh kabut. Mereka menembakkan tembakan anak panah ke arah suara drum dan panah menghujam jerami. Sementara itu, Zhuge Liang menikmati anggur dengan Lu Su di dalam kabin dan mereka kembali ke perkemahan ketika kabut memudar. Zhuge Liang memperoleh lebih dari 100.000 anak panah dengan rencana dan Zhou Yu tidak punya pilihan selain membiarkan dia pergi.

Berdoa untuk angin Timur

Sebelum Pertempuran Red Cliffs, ketika semua persiapan untuk serangan api pada armada Cao Cao telah dibuat, Zhou Yu tiba-tiba menyadari bahwa angin tidak bertiup untuk keuntungan mereka, karena angin timur itu diperlukan untuk meningkatkan serangan api. Ia pingsan dan jatuh sakit. Zhuge Liang mengunjungi dia dan membuatkan resep untuk dia, dengan menawarkan untuk mendoakan angin timur. Beberapa hari kemudian, angin timur mulai bertiup, mengejutkan semua orang. Zhou Yu senang, tetapi menjadi cemas karena ia berpikir Zhuge Liang memiliki kekuatan magis dan akan menjadi ancaman yang lebih besar untuk tuannya. Dia mengirim orang untuk membunuh Zhuge Liang di altar, tetapi Zhuge mengantisipasi gerakan ini dan sudah melarikan diri di bawah perlindungan Zhao Yun.

Empty Fort Strategy

Selama Ekspedisi Utara pertama, upaya Zhuge Liang menaklukkan Chang'an dirusak oleh kekalahan Shu pada Pertempuran Jieting. Dengan hilangnya Jieting, lokasi saat Zhuge Liang, Xicheng, berada dalam bahaya dan dapat diserang oleh tentara Wei. Dalam menghadapi bahaya, dengan kekuatan utamanya dikerahkan di tempat lain dan hanya sekelompok kecil tentara di kota itu, Zhuge Liang mempunyai cara untuk menahan musuh yang mendekat.

Zhuge Liang memerintahkan semua pintu gerbang kota untuk dibuka dan menginstruksikan tentara menyamar sebagai warga sipil untuk menyapu jalan sementara dia duduk di platform di atas gerbang dengan dua anak laki-laki mengapitnya. Ia mengenakan raut wajah yang tenang dan dengan memainkan Qin-nya (Qin = kecapi). Ketika Sima Yi tiba dengan tentara Wei, ia terkejut oleh pemandangan di depannya dan memerintahkan mundur setelah mencurigai bahwa ada suatu penyergapan dalam kota. Zhuge Liang kemudian menjelaskan bahwa strateginya adalah sesuatu yang beresiko. Ini dapat berhasil karena Zhuge Liang memiliki reputasi untuk mengambil taktik militer yang hati-hati dan hampir tidak pernah mengambil risiko, sehingga Sima Yi sampai pada kesimpulan bahwa ada suatu penyergapan saat melihat ketenangan Zhuge itu.

Kesimpulan Penulis:

Zhuge Liang versi sejarah meski tidak sewahid versi novelnya, namun dia adalah sosok yang sangat jenius dan sesuai dengan reputasinya sebagai sang naga tidur.

Poin pertama yang menjadi pertimbangan adalah:

Rencana Longzhong, dalam rencana ini Zhuge Liang memperkirakan bahwa Liu Bei akan mengambil alih provinsi Jing dan Yi, yang keduanya dikuasai oleh kerabatnya yang tidak kompeten. Rencana Longzhong mencatat bahwa Cao Cao menguasai Dataran Cina Utara, yang adalah kunci untuk penguasaan Cina, dan bahwa Sun Quan memegang wilayah Sungai Yangtze, yang dikenal sebagai "Jiangdong". Dalam pandangan ini, langkah untuk menempati Jing dan Yi sangat penting untuk sukses.

Garis penting dari rencana ini menunjukkan kejelian luar biasa dalam pembagian Cina menjadi tiga bagian. Aspek penting lain dari rencana itu adalah usulan untuk membentuk aliansi dengan Sun Quan untuk menangkal dan melawan Cao Cao. Aspek kecil lainnya termasuk institusi ekonomi, reformasi hukum dan administrasi serta mengembangkan hubungan baik dengan orang non-Han terletak di barat dan selatan. Kebijakan tersebut akan mengurangi resistensi dan meningkatkan sangat dibutuhkan tenaga kerja dan sumber daya ekonomi. Klausul puncaknya adalah kampanye dua arah utara yang akan berakhir dalam perebutan Dataran Cina Utara dan pembentukan kembali kekaisaran Han.

Sungguh dalam era tersebut rencana itu adalah sebuah visi yang luar biasa dan mampu menjadi kenyataan.

Poin kedua adalah

Meski masih diperdebatkan tapi ia adalah pemimpin militer yang handal, terbukti dari kemampuannya menaklukan Meng Huo tujuh kali. Selain itu meski ekspedisi ke utaranya kerap menemui ganjalan namun ia tidak pernah kehilangan lebih dari 5% kekuatan pasukannya perlu dicatat bahwa kekuatan tentara Wei pada saat itu berkisar antara 2 - 3x kekuatan tentara Shu. Selain itu ia benar-benar memperhitungkan kemampuan negara Shu sebelum meluncurkan ekspedisinya ke utara sehingga negara Shu tidak pernah melemah dalam segi domestik setiap kali Zhuge meluncurkan ekspedisinya.

Poin Ketiga:

Ia adalah seorang penemu yang ulung, menyadari bahwa kekuatan tentaranya berada di bawah Wei maka ia menciptakan penemuan-penemuan yang dapat membantu pasukannya ketika bertempur antara lain:
  • Mantou (Bakpao) dengan membawa Mantou pasukannya tidak perlu berhenti terlebih dahulu untuk makan, namun dapat terus bergerak tanpa kekurangan makanan.
  • Chu Ko Nu: Kemampuan panah ini tidak diragukan karena dapat menembak lebih jauh dan lebih cepat, saya berpendapat hal ini untuk menandingi kavaleri Wei yang jauh lebih kuat
  • Kongming Lantern: Selain berfungsi untuk memberi pesan, lentera ini juga berguna sebagai penerang di malam hari. Dan dapat digunakan untuk mengetahui posisi musuh di malam hari.
  • Wooden ox: Alat transportasi makanan yang berguna di medan Shu yang penuh pegunungan yang terjal dan jalan yang jelek