Tampilkan postingan dengan label cao cao. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cao cao. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Oktober 2012

Zhao Yun


Zhao Yun 


Zhao Yun Lahir di desa Zhending Propinsi Changshan (sekarang ZhengdingHebei) sekitar tahun 168 AD. Ia bergabung dengan Gongsun Zan pada akhir 191 atau permulaan 192 sebagai pemimpin untuk grup kecil sukarelawan. Pada 192 dia diperintahkan untuk membantu Liu Bei, yang hanya memiliki pangkat mayor untuk Gongsun Zan, tak lama Zhao Yun meninggalkan Gongsun Zan dan Liu Bei untuk menghadiri pemakaman kakaknya beberapa saat setelah itu.
Zhao Yun kembali bergabung dengan Liu Bei pada 200 AD, ketika Liu Bei dikalahkan Cao Cao dan pergi ke Yuan Shao. Zhao Yun dikatakan bersahabat dekat dengan Liu Bei. Semenjak itu, Zhao Yun Ikut dengan Liu Bei sepanjang perjalanannya di sekeliling utara negeri Cina.
Pada 208, Zhao Yun membuktikan kemampuannya pada pertempuran Changban. Ketika Liu Bei sedang melarikan diri keluarganya tertinggal. Maka Zhao Yun pergi ke utara, menimbulkan kecurigaan bahwa Zhao Yun menyerah kepada Cao Cao. Ketika seseorang melaporkannya ke Liu Bei, Liu Bei dengan marah melemparkan kapak dan berkata "Zilong tidak akan pernah mengkhianatiku". Benar saja tak berapa lama, Zhao Yun kembali dengan anak Liu Bei, Liu Shan di tangannya, Juga membawa Nona Gan istri Liu Bei. Dengan ini, Zhao Yun diangkat menjadi “General of the Standard”. Pada pertarungan ini Cao Cao sangat terkesan atas keberanian dan keahlian Zhao Yun dan memerintahkan untuk menangkap Zhao Yun hidup2x dengan harapan Zhao Yun menyerah kepadanya. Dalam pertarungan ini Zhao Yun tujuh kali menerobos keluar masuk tentara Cao Cao, membunuh ribuan prajurit, membunuh puluhan panglima musuh dan merebut 2 panji bendera Cao Cao. Dalam perjalanan kembali dia bertemu dengan Zhang Fei di jembatan Chang Ban, ketika dia menemui Liu Bei dengan Liu Shan yang tertidur di dekapannya Liu Bei dengan marah melempar anaknya ke tanah yang oleh Zhao Yun hampir gagal ditangkap kemudian Liu Bei berkata, “Untuk menyelamatkan anak itu aku hampir kehilangan seorang panglima terbaikku.” Hal ini untuk menunjukkan betapa Liu Bei menilai tinggi Zhao Yun.
Setelah pertempuran Chi Bi, Zhao Yun berperan besar untuk menaklukan wilayah Jiangnan untuk Liu Bei. Zhao dipromosikan sebagai mayor jendral dan diangkat sebagai gubernur Guiyang, menggantikan Zhao Fan. Zhao Fan ingin menikahkan kakak iparnya Nona Fan dengan Zhao Yun. Namun, Zhao Yun menolaknya dengan halus Zhao Fan mengatakan, “Margaku sama denganmu. Oleh karena itu aku menganggapmu sebagai kakakku.” Banyak yang menganggap Zhao Yun dan nona Fan adalah pasangan serasi dan menyarankan Zhao Yun untuk memperistri nona Fan. Zhao Yun menjelaskan, “Zhao Fan baru menyerah. Niatnya belum jelas. Lagipula banyak wanita di dunia ini.” pada akhirnya ia tidak memperistri nona Fan. Kekhawatirannya menjadi kenyataan; Zhao Fan kemudian melarikan diri dariGuiyang.
Ketika Liu Bei masuk ke propinsi Yi, dia mengangkat Zhao Yun sebagai pengawas markasnya (Liuying Sima) di Gong'an . Istri Liu Bei waktu itu adalah Nona Sun, adik Sun Quan. Dipengaruhi karena reputasi dan kekuatan kakaknya, dia dan pengawalnya sering bertindak semena-mena, dan melanggar hukum. Liu Bei mempertimbangkan karena Zhao Yun serius, tegas dan loyal, Yun pasti dapat mengendalikan semuanya. Oleh karena itu, Liu Bei memberikan Zhao Yun otoritas untuk semua urusan internal di Gongan (di saat yang bersamaan untuk mengawasi Nona Sun and pengikutnya). Segera setelah itu Liu Bei meninggalkan Propinsi Jing, Sun Quan secara rahasia memanggil adiknya untuk kembali. Nona Sun memutuskan untuk membawa Liu Shan, namun Zhao Yun dan Zhang Fei berhasil menghentikannya di sungai Yangtze dan menyelamatkan tuan muda mereka..
Zhao Yun diangkat menjadi “General Yijun” setelah Liu Bei mendapatkan Chengdu. Pada waktu yang sama anak buah Liu Bei menyarankan agar para perwira dihadiahkan lahan dan properti disekelilingChengdu supaya mereka bisa menempatinya. Zhao Yun menyarankan untuk mengembalikannya pada rakyat karena mereka telah menderita oleh perang dan Liu Bei menyetujuinya..
Pada 219, Liu Bei dan Cao Cao berperang untuk wilayah Hanzhong. Cao Cao mempunyai banyak perbekalan di Gunung utara. Zhao Yun mengirim pasukannya bersama Huang Zhong, salah satu Jendral besar Liu Bei, untuk menyerang tentara Cao Cao dan merebut persediaan. Huang Zhong tidak kembali pada waktunya. Zhao Yun bersama segelintir pasukannya pergi mencari Huang Zhong. Zhao Yun bertemu dengan pasukan pelopor Cao Cao. Tidak berapa lama mereka bertempur, Tentara utama Cao Cao tiba. Situasi menjadi sangat genting untuk Zhao Yun, karena dia dan anak buahnya kalah jumlah. Zhao Yun memutuskan untuk menyerang barisan depan tentara Cao Cao membuat mereka terkejut oleh serangan ini dan berpencar sementara. Namun tak lama mereka bergabung kembali dan mengepung Zhao Yun. Zhao Yun berjuang untuk keluar dan kembali ke kemahnya. Ketika dia tahu salah seorang perwiranya Zhang Zhu terluka dan tertinggal ia kembali untuk menyelamatkannya.
Tentara Cao Cao mengejar Zhao Yun sampai ke kemahnya. Pada saat itu administrator Mianyang, Zhang Yi, ada di Kemah Zhao Yun. Zhang Yi berpikir untuk menutup semua gerbang guna menghadapi serangan Cao Cao. Namun sekembalinya, Zhao Yun memerintahkan semua bendera diturunkan dan disembunyikan, semua drum perang diam, dan gerbang dibiarkan terbuka sementara ia sendiri berdiri di gerbang. Curiga akan adanya jebakan, Cao Cao dan tentaranya mundur. Melihat ini Zhao Yun memerintahkan anak buahnya memukul genderang perang sekeras2xnya, dan para pemanahnya menembaki tentara Cao Cao. Terkejut oleh serangan ini tentara Wei tercerai berai. Ketika berusaha kabur, tentara Wei tergesa-gesa menuju sungai Han, dan karena kebingungan dan kepanikan banyak yang tercebur dan tenggelam..
Sehari setelah pertempuran, Liu Bei tiba untuk melihat medan pertempuran. Dia berkata, “Zilong memiliki keberanian dari yang paling berani.” Liu Bei memerintahkan perayaan, lengkap dengan anggur dan musik sampai larut malam, untuk Zhao Yun. Sejak saat itu, Tentara Liu Bei menjuluki Zhao Yun “The General with the Might of a Tiger”.
Pada 221 Liu Bei memproklamirkan dirinya sebagai kaisar Shu Han. Pada saat yang sama menyatakan perang kepada Sun Quan untuk membalas kematian Guan Yu dan propinsi Jing. Zhao Yun berusaha untuk mencegah Liu Bei berperang, dan menyerang Wei lebih dulu. Liu Bei menolak dan tetap berperang dengan Wu. Dia meninggalkan Zhao Yun untuk mengawasi Jiangzhou. Setelah Liu Bei kalah oleh Lu Xun pada pertempuran Yiling, Zhao Yun dan tentaranya menuju Yong'an. Pada saat itu, tentara Wu telah mundur karena serangan Wei.
Liu Bei meninggal pada 223, dan anaknya Liu Shan meneruskan tahtanya. Tahun itu, Zhao Yun diberi pangkat “General who Conquers the South”, dan Komandan militer utama. Dia juga dianugerahi gelar “Marquis of Yongchang Ting”. Tak lama, Zhao Yun dipromosikan menjadi “General who Guards the East.” Pada 227, Zhao Yun ikut serta bersama Zhuge Liang Ke HanZhong untuk mempersiapkan Ekspedisi ke Utara yang pertama. Tahun berikutnya, Zhuge Liang mengirim Zhao Yun ke Jigu untuk mengalihkan perhatian tentara Wei yang dipimpin Cao Zhen. Tentara utama Zhuge Liang mengalami kekalahan di Jieting karena kecerobohan Ma Su. Pada saat yang sama melawan lawan yang lebih banyak dan terlatih, Zhao Yun tidak mampu memperoleh kemenangan dan memutuskan untuk mundur tentara Wei mengejar. Namun, Zhao Yun segera mengumpulkan tentaranya dan mempertahankan posisi mereka dengan gigih. 
Ketika Pasukan Zhao Yun sampai di Han Zhong, Zhuge Liang sangat terkesan karena tentara utama Zhao Yun tidak tercerai-berai dan dapat kembali dengan korban yang minimal. Ketika ditanyakan kepada anak buahnya semua menjawab karena Zhao Yun dengan gigih menjaga mereka waktu mundur. Zhuge Liang berkata, “Sungguh seorang Jenderal yang hebat.” Ia menghadiahi Zhao Yun dengan emas dan 10.000 kain sutera untuk tentaranya. Namun Zhao Yun mengembalikan semuanya sambil berkata, “Seluruh tentara mengalami kekalahan, Dan itu merupakan kesalahan kami juga. Aturan mengenai penghargaan dan hukuman harus ditaati. Aku berharap agar hadiah ini disimpan hingga musim dingin, dimana nanti bisa dibagikan kepada tentara." Ketika Kaisar Liu Bei masih hidup, Ia tidak pernah lelah memuji kebajikan dan jasa Zhao Yun. Kaisar Liu Bei sangat benar," kata Zhuge Liang. Dan Zhuge Liang bertambah kagum pada Zhao Yun.
Pada 229 AD, Zhao Yun meninggal di Han Zhong dan kesedihan menyelimuti tentara Shu. Zhuge Liang sangat sedih sambil menangis dia berkata, “Temanku telah tiada. Negara kita telah kehilangan salah satu pilarnya, dan untukku tangan kananku!" Zhao Yun menerima gelar anumerta Marquis Shunpingdari Liu Shan pada 261.

Guan Yu


Guan Yu / Kan’u unchouu



Quote:
Guan Yu adalah seorang jenderal yang melayani di bawah panglima perang Liu Bei selama akhir Dinasti Han Timur dan era Tiga Kerajaan. Ia memainkan peran penting dalam perang yang menyebabkan runtuhnya Dinasti Han dan pembentukan Kerajaan Shu, dimana Liu Bei adalah kaisar pertama.

Sebagai salah satu tokoh sejarah Cina yang paling dikenal di seluruh Asia Timur, Kisah kehidupan Guan Yu telah diwariskan secara turun-temurun di mana perbuatan dan kualitas moralnya telah dibuktikan.


Guan Yu didewakan sejak Dinasti Sui dan masih disembah oleh orang-orang Cina saat ini, terutama di Cina bagian selatan. Dia dihormati sebagai lambang kesetiaan dan kebenaran.

Penampilan Fisik:

Guan Yu secara tradisional digambarkan sebagai seorang gagah berwajah merah dengan janggut subur panjang. Sementara janggutnya benar-benar disebut dalam Catatan Tiga Kerajaan, ide wajahnya yang merah mungkin berasal dari deskripsi dalam Bab Salah satu Kisah Tiga Kerajaan, di mana muncul kalimat berikut:
“Xuande melirik laki-laki, yang berdiri di ketinggian sembilan chi (1 chi = 0,3333m jadi tinggi Guan Yu hampir 3 meter), dan memiliki dua chi (0.7 m) jenggot panjang; wajahnya seperti warna Jujube, dengan bibir merah ; matanya seperti mata phoenix, ] dan alisnya mirip ulat sutra. Dia punya aura yang bermartabat dan tampak sangat perkasa.” 
Mungkin juga, gagasan wajahnya yang merah bisa dipinjam dari opera2x China, di mana wajah-wajah merah menggambarkan kesetiaan dan kebenaran. Konon, senjata Guan Yu adalah sebuah guandao bernama Green Dragon Crescent Blade, yang menyerupai tombak dan dikatakan memiliki berat 82 kati (sekitar 49,5 kg atau 109 lbs). Sebuah replika kayu dapat ditemukan di Kuil Kaisar Guan di Xiezhou County, Cina. Ia digambarkan mengenakan jubah tradisional berwarna hijau di atas pelindung tubuh, seperti yang digambarkan dalam Kisah Tiga Kerajaan.




Dalam Kisah Tiga Negara

Novel sejarah Kisah Tiga Negara ditulis oleh Luo Guanzhong memuliakan Guan Yu dengan menggambarkan dia sebagai orang jujur dan setia. Berikut ini adalah beberapa cerita yang melibatkan Guan Yu dari novelnya:

Early life

Dalam Bab 1, Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei bertemu di Zhuo County dan mengambil sumpah persaudaraan di Peach Garden, dengan demikian ia menjadi saudara dengan Liu Bei dan Zhang Fei. Diantara mereka bertiga Guan Yu . Sumpah ini menjadi prinsip penuntun untuk Guan Yu dan mempengaruhi sebagian besar kehidupannya di kemudian hari. Guan Yu berpegang teguh pada sumpah ini sampai kematian-Nya dan selalu setia kepada sumpah ini.

Dalam Bab 5, Guan Yu membuat namanya terkenal dengan membunuh panglima yang tampaknya tidak terkalahkan Jendral Hua Xiong dalam kampanye melawan Dong Zhuo. Ketika itu Yuan Shao tidak percaya bahwa Guan Yu bisa mengalahkan Hua Xiong, begini kutipan dari novelnya:

”Sebuah penghinaan untuk kita semua!” Seru Yuan Shao dari tempat duduknya. “Apa kita tidak mempunyai panglima lagi? Beraninya seorang pemanah berkuda (Jabatan Guan Yu waktu itu hanya seorang pemanah berkuda alias prajurit biasa) berbicara demikian? Ayo kita eksekusi dia!”

Tapi Cao Cao menengahi, “Tenang tuan Yuan Shao! Karena pria ini berbicara demikian, dia tentunya tangguh. Biar dia mencoba. Kalau dia gagal, barulah kita hukum dia.”

“Hua Xiong akan mentertawakan kita kalau mengirim prajurit biasa melawannya.” Kata Yuan Shao

“Orang ini tidak kelihatan seperti prajurit biasa. Bagaimana musuh tahu kalau dia hanya prajurit biasa?” Kata Cao Cao

“Bila aku gagal tuan bisa memenggal kepalaku!” Kata Guan Yu.

Cao Cao meminta pelayan menghangatkan anggur dan memberikannya pada Guan Yu sebelum dia pergi.

“Letakkan saja disitu,” Kata Guan Yu “Aku akan segera kembali.”

Guan Yu pergi dengan senjatanya dan melompat ke kudanya. Mereka yang di tenda itu mendengar deru genderang perang dan suara keras seperti langit runtuh dan bumi bergetar, bukit2x gemetar dan gunung terpecah-belah. Dan mereka semua ketakutan. Ketika mereka mendengar dengan seksama, suara denting bel kuda terdengar, dan Guan Yu kembali, membawa kepala dari musuh mereka Hua Xiong.

Anggurnya masih hangat


Kemudian, ketiga bersaudara ini bersumpah menantang Jenderal perkasa Lü Bu di Hulao Pass dan berhasil memaksa Lü Bu untuk mundur meskipun mereka tidak pernah mengalahkan dia.

Ketika berada di bawah Cao Cao

Dalam Bab 25, Cao Cao menyerang wilayah Liu Bei dari Xuzhou dan mengalahkan pasukan Liu Bei. Ketiga bersaudara ini pun terpisah sementara. Guan Yu bertugas membela Xiapi, di mana istri Liu Bei diberi tempat tinggal. Guan Yu dipancing keluar dari kota dan terkepung di bukit dekatnya sementara kota ini jatuh ke pasukan Cao Cao. Cao Cao mengirim Zhang Liao untuk membujuk Guan Yu untuk menyerah. Guan Yu mengkhawatirkan keselamatan saudara perempuannya mertuanya ketika ia melihat bahwa sebagai tanggung jawabnya. Setelah banyak pertimbangan, Guan Yu setuju untuk tunduk kepada Cao Cao dengan tiga syarat:

  1. Dalam nama, Guan Yu menyerahkan kepada Emperor Xian (yang sebenarnya penguasa boneka di Cao Cao kontrol) dan tidak untuk Cao Cao.
  2. Istri Liu Bei tidak boleh dirugikan dengan cara apapun. Mereka harus diperlakukan dengan penuh hormat dan kehormatan.
  3. Jika Guan Yu berhasil menemukan keberadaan Liu Bei (yang nasibnya belum diketahui setelah pertempuran) suatu hari, ia akan meninggalkan Cao Cao agar bisa bersatu dengan saudara angkatnya itu.

Cao Cao setuju untuk syarat2x ini meskipun ia merasa cemas untuk syarat yang terakhir. Guan Yu kemudian diserahkan kepada Cao Cao dan bertugas kepada Cao Cao untuk jangka waktu yang singkat. Oleh Cao Cao, Guan Yu diperlakukan dengan sangat hormat dan diberikannya kepada Guan Yu hadiah2x, kemewahan dan wanita, serta kuda yang terkenal Red Hare yang dulu milik Lü Bu. Guan Yu tidak terlalu kesan terhadap hadiah-hadiah Cao Cao, tetapi ketika Cao Cao memberinya kuda Red Hare, ia berlutut dan berterima kasih Cao Cao. Ketika Cao Cao bertanya alasannya, Guan Yu menjawab, "Tuan, saya sangat berterima kasih kepada Anda untuk tunggangan ini karena dengan itu, aku bisa mencapai saudara angkat saya dalam jangka waktu yang lebih singkat jika saya tahu di mana dia berada.” Cao Cao agak menyesal setelah mendengar hal ini namun ia tak dapat menarik hadiah itu kembali.

Juga dalam Bab 25, dalam pertempuran antara pasukan Cao Cao dan panglima perang Yuan Shao di tepi Sungai Kuning, jendral Cao Cao dikalahkan oleh Jendral pasukan Yuan Shao, Yan Liang. Cao Cao ingin mengirim Guan Yu untuk menantang Yan Liang tapi ia ragu-ragu karena dia tidak ingin Guan untuk membuat kontribusi. Guan sebelumnya mengatakan bahwa ia akan menunjukkan rasa terima kasih kepada Cao Cao dengan membuat beberapa kontribusi untuk Cao Cao sebelum ia dapat pergi. Namun demikian, dengan terpaksa Cao Cao mengutus Guan Yu untuk melawan Yan Liang dan Guan Yu menang, membunuh Yan Liang dan kembali dengan kepalanya. Dalam bab berikut, Wen Chou, Jendral Yuan Shao lainnya datang untuk membalaskan dendam kematian Yan Liang. Wen mengalahkan beberapa panglima terbaik Cao Cao termasuk Zhang Liao dan Xu Huang. Guan Yu membuat kontribusi besar lainnya kepada Cao Cao dengan membunuh Wen Chou.

Melewati 5 Gerbang dan membunuh Enam Jenderal

Dalam Bab 26, Guan Yu akhirnya menerima kabar bahwa Liu Bei masih hidup dan saat ini berada dalam perlindungan Yuan Shao. Guan memutuskan untuk meninggalkan Cao Cao bersama-sama dengan istri-istri Liu Bei untuk bergabung dengan Liu Bei. Guan Yu mencoba menyampaikan perpisahan Cao Cao secara pribadi sebelum berangkat, tapi Cao Cao tidak memberinya kesempatan untuk melakukannya. Frustrasi, Guan Yu akhirnya menulis surat perpisahan untuk Cao Cao dan pergi. Ia tidak membawa satu pun barang2x dan hadiah pemberian Cao Cao, kecuali Red Hare. Dia bahkan melepaskan gelar sebagai Marquis of Han Shoudengan meninggalkan segel resminya. Bawahan Cao Cao merasa bahwa Guan Yu bersikap terlalu kasar dan arogan dengan meninggalkan tanpa mengucapkan selamat tinggal dan ingin mengejar dia dan membawanya kembali. Namun, Cao Cao tahu bahwa tidak ada yang bisa menghentikan keinginan Guan Yu dan ia memberi perintah untuk para pejabat di sepanjang jalan untuk memberi jalan kepada Guan Yu.

Guan Yu berkuda di samping kereta membawa istri2x Liu Bei dan mengantar mereka dengan selamat sepanjang jalan. Pertama adalah mereka mencapai Dongling Pass (东岭关, sekarang selatan Dengfeng, Henan). Petugas penjaga Kong Xiu menolak untuk mengizinkan Guan Yu karena Guan tidak punya izin resmi dengan dia. Marah, Guan Yu membunuh Kong Xiu dan memaksa melewati jalan.

Mereka tiba di kota Luoyang berikutnya. Gubernur Han Fu membawa 1.000 pria untuk blokade jalan Guan Yu. Bawahan Han Meng Tan menantang Guan Yu berduel tapi ditebas menjadi dua oleh Guan. Sementara Guan bertarung dengan Meng, Han Fu diam-diam membidik dan menembak panah di Guan Yu. Panah mengenai lengan Guan Yu dan melukai dirinya, tetapi Guan Yu menarik panah dari lukanya dan berikutnya membunuh Han Fu. Para prajurit terkejut segera memberi jalan dan mereka melewati dengan aman.

Rombongan Guan Yu tiba di Sishui Pass (汜水, sebelah utara sekarang Xingyang, Henan). Petugas penjaga Bian Xi menerima rombongan Guan Yu dengan sambutan yang hangat dan mengundang Guan ke sebuah pesta di kuil di luar pos. Tetapi, Bian Xi telah memerintahkan 200 dari anak buahnya bersembunyi di dalam kuil untuk membunuh Guan Yu. Untungnya, salah seorang biarawan bernama Pujing, yang juga berasal dari kampung halaman Guan Yu, mengisyaratkan untuk Guan Yu akan bahaya yang tersembunyi. Penyergapan gagal dan Guan Yu membunuh Bian Xi dan melewati Sishui Pass.

Gubernur Xingyang, Wang Zhi, mengadopsi skema yang sama untuk membunuh Guan Yu. Seperti Bian Xi, ia berpura-pura ramah terhadap Guan Yu dan Guan Yu memimpin partai ke sebuah rumah yang sudah disediakan bagi mereka untuk menetap di malam. Setelah itu, Wang memerintahkan bawahannya Hu Ban untuk memimpin 1.000 pria untuk mengepung rumah itu diam-diam dan membakarnya di tengah malam. Penasaran ingin tahu bagaimana rupa Guan Yu yang terkenal, Hu Ban mencuri pandang pada Guan Yu. Guan melihat Hu Ban dan mengundangnya ke dalam ruangan. Guan Yu telah bertemu ayah Hu sebelumnya dan membawa surat ayah Hu dengannya. Dia memberikan surat kepada Hu Ban, setelah membacanya Hu Ban memutuskan untuk membantu Guan Yu. Hu Ban mengungkapkan rencana jahat Wang Zhi dan membuka gerbang kota diam-diam untuk Guan Yu dan rombongannya pergi. Wang Zhi menyusul beberapa saat kemudian, tetapi Guan Yu berbalik dan membunuhnya.

Rombongan Guan Yu akhirnya tiba di tempat penyeberangan di tepi selatan Sungai Kuning. Qin Qi, petugas yang bertanggung jawab, menolak untuk mengizinkan Guan Yu untuk menyeberangi sungai dan terbunuh oleh Guan Yu yang marah. Guan Yu dan rombongannya lalu menyeberangi sungai dengan aman dan masuk ke wilayah Yuan Shao. Namun, mereka segera menyadari bahwa Liu Bei tidak lagi berada di wilayah Yuan dan telah pergi untuk Runan. Guan Yu dan rombongannya kemudian membuat perjalanan panjang mereka kembali dan akhirnya dipersatukan kembali dengan Liu Bei dan Zhang Fei di Gucheng.

Melepaskan Cao Cao di lembah Huarong

Dalam Bab 50, setelah menderita kekalahannya dalam Pertempuran Red Cliffs, Cao Cao melarikan diri dengan prajuritnya yang masih hidup ke arah kota Jiangling. Ahli strategi militer utama Liu Bei Zhuge Liang telah meramalkan kekalahan Cao Cao dan memperkirakan rute pelarian Cao Cao. Dia memerintahkan Guan Yu untuk memimpin 5.000 pria dan bersembunyi untuk menyergap di sepanjang Huarong Trail, jalan sempit di hutan mengarah Jiangling. Sebelum keberangkatannya, Guan Yu membuat sumpah militer berjanji bahwa ia tidak akan mengingat kebajikan Cao Cao kepadanya. Jika ia gagal melakukannya, ia akan menghadapi hukuman mati di bawah hukum militer. Seperti yang diharapkan, Cao Cao melewati lembah Huarong setelah disergap oleh Zhao Yun dan Zhang Fei di sepanjang rute melarikan diri.

Cao Cao dan anak buahnya bertemu Guan Yu dan pasukannya. Cao Cao berbicara kepada Guan Yu dan memohon padanya untuk mengampuni hidupnya dan mengingatkannya tentang hubungan masa lalu mereka. Guan Yu terharu ketika ia ingat kebaikan yang ia terima dari Cao Cao. Juga, ketika ia melihat penderitaan Cao Cao yang baru kalah dan Zhang Liao, yang sebelumnya ia diselamatkan dari kematian, dia memutuskan untuk membiarkan Cao Cao dan anak buahnya untuk pergi. Setelah kembali, Guan Yu mengaku bersalah telah melanggar janji yang dibuat sebelumnya dan menyatakan kesediaannya untuk menerima eksekusi. Namun, dengan campur tangan Liu Bei dan Zhang Fei, Zhuge Liang memutuskan untuk mengampuni Guan Yu mengingat jasa Guan Yu di masa lalunya. Sebenarnya Zhuge Liang telah menduga Guan Yu akan melepaskan Cao Cao dan ia memang sengaja agar Guan Yu dapat membuktikan belas kasihnya dan mempercepat pembentukan Tiga Kerajaan.

Hua Tuo mengobati lengan Guan Yu

Dalam Bab 75, selama pengepungan pada Fancheng (樊城, sekarang Xiangfan, Hubei), lengan Guan Yu terluka oleh sambaran panah yang ditembakkan oleh musuh. Panah itu segera dicabut tapi racun yang dioleskan pada mata panah sudah meresap ke dalam lengan Guan Yu. Guan Yu tidak mau memerintahkan pasukannya untuk mundur sehingga bawahannya mencari seorang tabib untuk mengobati lukanya. Tabib yang terkenal Hua Tuo muncul tepat pada waktu dan menawarkan diri untuk merawat luka Guan Yu.

Hua Tuo mendiagnosa bahwa dia perlu melakukan operasi pada lengan Guan Yu, dengan memotong membuka dan mengorek daging dari sisa-sisa racun pada tulang. Hua juga menyarankan bahwa Guan Yu akan menutup mata dan mengikat lengannya erat-erat karena akan dilakukan operasi dan tidak adanya anestesi juga sebagian besar pasiennya tidak dapat tahan rasa sakit luar biasa dari operasi itu. Namun, Guan Yu meminta agar operasi dilakukan di tempat dan ia terus melanjutkan permainan Weiqi dengan Ma Liang selama operasi. Sepanjang operasi, mereka yang menonton di dekatnya merasa ngeri saat mereka menyaksikan adegan mengerikan di depan mereka, tetapi Guan Yu tetap tenang dan tidak menunjukkan tanda-tanda sakit sama sekali. Akhirnya, Hua Tuo berhasil menyembuhkan luka Guan Yu dan menjahitnya setelah menerapkan pengobatan dan kemudian pergi tanpa menerima imbalan apapun.

The Death Of the God Of War

Sebelum berangkat menyerang Fancheng atas perintah Liu Bei, Sun Quan mengirim utusan kepada Guan Yu untuk menikahkan anaknya dengan anak perempuan Guan Yu. Namun Guan Yu menolaknya dengan keras bahkan hampir membunuh utusan itu sambil berkata, "Mana bisa anak macan (anaknya) dikawinkan dengan anak anjing (anak Sun Quan)!" Untunglah utusan tersebut berhasil diselamatkan oleh Guan Ping dan Wang Lei. Akibat hal ini Sun Quan merasa sakit hati dan berniat merebut JingZhou

Guan Yu menemui ajalnya di Maicheng, Ketika ia sedang menggempur istana Fan yang di jaga oleh Cao Ren ia mengalami kekalahan dari pasukan bala bantuan Wei yang dipimpin oleh Xu Huang. Ditambah lagi pasukan Wu yang dikomandoi oleh Lu meng berhasil merebut Jing karena dibantu oleh Mi Fang dan Fu Shiren anak buah Guan Yu yang membelot.

Terdesak dengan sedikit perbekalan dan prajurit Guan Yu mencoba melarikan diri ke Yizhou (Shu) namun Lu Meng telah memperkirakan hal ini dan menempatkan pasukan di tempat yang dilalui oleh Guan Yu. Guan Yu dan anaknya Guan Ping berhasil ditangkap oleh Pan Zhang, lalu mereka berdua di hukum mati oleh Sun Quan. Sampai akhir hayatnya ia menolak untuk menyerah kepada Sun Quan karena kesetiannya pada Liu Bei.

Pencerahan di Yuqian Hill

Dalam Bab 77, setelah kematian Guan Yu di tangan Sun Quan, penguasa Wu, rohnya menjelajahi wilayah, sambil berteriak, "Kembalikan kepalaku!". Rohnya datang ke Bukit Yuquan luar Dangyang County (sekarang Dangyang, Hubei), dan ditemui Pujing, biarawan yang menyelamatkan hidupnya beberapa tahun lalu di Sishui Pass. Pujing berbicara dengan lembut, "Sekarang Anda meminta kepala Anda, tapi dari siapakah Yan Liang, Wen Chou, para penjaga perbatasa dan banyak orang lain meminta kepala mereka?" Jiwa Guan dengan demikian tercerahkan dan menghilang, tapi selanjutnya terwujud di sekitar bukit dan melindungi penduduk setempat dari yang jahat. Penduduk setempat membangun sebuah kuil di atas bukit untuk menyembah roh.

Rahib Pujing dikatakan telah membangun sebuah gubuk untuk dirinya sendiri di kaki tenggara Yuquan Hill selama tahun-tahun terakhir Dinasti Han Timur. The Yuquan Temple (玉泉寺), kuil tertua di daerah Dangyang dari tempat pemujaan Guan Yu berasal, dibangun di lokasi yang tepat dari pondok, dan konstruksi telah selesai hanya sampai Dinasti Sui.

Setelah kematian

Dalam Bab 77, setelah Wu merebut Jingzhou dan dibunuh Guan Yu, penguasa Sun Quan mengadakan sebuah perjamuan untuk merayakan kemenangan untuk menghormati komandan militer Lü Meng, yang merencanakan serangan terhadap Jingzhou. Ketika pesta berlangsung, Guan Yu merasuki Lü Meng dan menawan Sun Quan. Ketika yang lain bergegas ke depan untuk menyelamatkan Sun Quan, Lü Meng yang kerasukan bersumpah akan membalas dendam sebelum ambruk ke lantai. Beberapa saat kemudian, Lü Meng meninggal. Sun Quan sangat ketakutan dan dia mengirim kepala Guan Yu kepada Cao Cao, berharap untuk mendorong tanggung jawab kematian Guan Yu ke Cao dan menabur perselisihan antara Shu dan Cao Cao.

Ketika Cao Cao membuka kotak yang berisi kepala Guan Yu, ia melihat ekspresi wajah Guan menyerupai orang yang hidup. Dia tersenyum dan berbicara ke kepala, "Saya harap Anda baik-baik saja sejak terakhir kita berpisah." Namun tiba2x, kepala Guan Yu membuka mata dan mulut dan janggut panjang dan rambut berdiri di ujungnya. Cao Cao terjatuh dan tidak sadarkan diri, ia baru kembali sadar setelah waktu yang lama. Setelah sadar, ia berseru, "Jenderal Guan adalah benar-benar seorang dewa dari surga!" Lalu ia memerintahkan kepala untuk dimakamkan dengan penghormatan selayaknya seorang pangeran.