Tampilkan postingan dengan label kesehataan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kesehataan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Juli 2018

Semua Hal Tentang Mimpi Basah

Pernahkah Anda terbangun karena merasakan sesuatu yang basah dan lengket pada celana dalam atau piyama Anda? Pada awalnya mungkin Anda mengira Anda telah mengompol. Tetapi jika Anda sudah pernah mengalaminya atau sudah melewati pubertas, mungkin Anda mengalami mimpi basah.
Dokter menyebut mimpi basah sebagai “nocturnal emissions”. Nocturnal berarti malam, dan emissions adalah kata lain dari pelepasan.
Penasaran apa itu mimpi basah dan kenapa Anda mengalaminya? Berikut adalah jawaban dari beberapa pertanyaan yang sering diajukan tentang mimpi basah.


1. Apa itu mimpi basah?

Mimpi basah adalah ketika Anda berejakulasi saat tidur. Ejakulasi berarti Anda mengeluarkan air mani (cairan yang mengandung sperma) dari penis Anda. Biasanya mimpi basah terjadi ketika Anda bermimpi tentang seks, namun Anda mungkin saja tidak mengingat mimpi Anda.
Anda tidak perlu bermasturbasi untuk mengalami mimpi basah. Anda dapat mengalami ejakulasi tanpa harus menyentuh penis Anda.

2. Apa yang menyebabkan mimpi basah?

Ketika Anda mengalami pubertas, tubuh Anda akan mulai memproduksi hormon pria yaitu testosteron. Setelah tubuh Anda memproduksi testosteron, Anda dapat mengeluarkan sperma. Ini berarti Anda sudah dapat membuahi sel telur jika Anda memutuskan untuk memiliki anak di masa mendatang. Ini berarti juga Anda dapat menghamili wanita lewat hubungan seks.
Selama pubertas, Anda bisa mengalami ereksi kapan saja. Di sekolah, ketika menonton TV, saat mandi, dan Anda bahkan juga bisa mengalami ereksi saat tidur.
Air mani diproduksi dalam tubuh Anda. Satu-satunya cara air mani untuk keluar adalah melalui mimpi basah.

3. Apakah ada yang salah dengan saya karena mengalami mimpi basah yang berkelanjutan?

Mimpi basah sangatlah normal saat beranjak dewasa. Tidak ada yang bisa Anda lakukan untuk mengontrol atau menghentikan mimpi basah.
Walaupun Anda sering sekali mengalami mimpi basah, bukan berarti ada yang salah dengan Anda. Beberapa pria mengalami mimpi basah beberapa kali seminggu. Beberapa lainnya mungkin hanya mengalaminya beberapa kali selama hidupnya.
Jika Anda telah melepaskan sperma dengan masturbasi atau hubungan seks dengan pasangan, Anda mungkin akan mengalami mimpi basah yang lebih jarang.

4. Apakah semua orang mengalami mimpi basah?

Anda harus mengalami pubertas dan testis Anda harus dapat memproduksi sperma untuk dapat mengalami mimpi basah. Mimpi basah selama pubertas sangatlah normal.

5. Apakah ada yang salah dengan saya apabila saya tidak mengalami mimpi basah?

Tidak semua remaja laki-laki mengalami mimpi basah. Faktanya, tidak mengalami mimpi basah bukan berarti ada yang tidak beres dengan Anda.

6. Apakah wanita mengalami mimpi basah?

Walaupun wanita tidak dapat berejakulasi, mereka dapat mengalami orgasme dalam mimpi, walaupun kejadiannya tidak sebanyak pria.

7. Apa yang harus saya lakukan bila mengalami mimpi basah?

Ketika Anda bangun, bersihkan diri Anda. Cuci alat kelamin Anda dengan sabun dan air, termasuk area bawah penis jika Anda belum disunat.
Jika Anda merasa bersalah atau kurang nyaman saat mengalami mimpi basah, bicaralah pada seseorang. Temui dokter, orang ua, konsultan, atau orang dewasa lain yang Anda percaya.

8. Dapatkah saya mencegah mimpi basah terjadi?

Walaupun beberapa orang merasa bisa mencegah mimpi basah terjadi, tetap tidak ada cara yang terbukti untuk ini. Mengganti sprei atau membersihkan diri setelah mimpi basah memang memalukan atau menyebalkan, tetap ingatlah bahwa mimpi basah adalah sesuatu yang normal dan merupakan bagian dari perkembangan diri.
Jika Anda merasa kurang nyaman dalam mengalami mimpi basah, bicaralah pada orang dewasa yang Anda percaya: orangtua, konsultan sekolah, atau ahli kesehatan Anda. Membicarakan hal ini adalah cara terbaik untuk membuat Anda merasa lebih baik tentang tahap alami dari perkembangan tubuh Anda.


Sumber : Hellosehat

Senin, 08 September 2014

Mengenal Rubella atau Campak Jerman

Sebagian masyarakat masih ada yang kurang memahami virus rubella atau campak Jerman. Meski penyakit yang sejenis dengan campak namun berbeda virus penyebabnya ini, hanya menyerang sekali seumur hidup namun efeknya berbahaya jika penderitanya adalah ibu hamil.
Pemakaian kata Jerman dalam penyakit campak Jerman atau rubella, ternyata tidak ada hubungannya apakah penyakit tersebut berasal dari negara Jerman. Akibat konotasi yang salah itu, penyakit ini bagi orang awam dikenal sebagai penyakit orang Eropa, padahal penyakit tersebut ada dimana-mana, termasuk Indonesia.
Penyebab rubella atau campak Jerman adalah virus rubella. Meski virus penyebabnya berbeda, namun rubella dan campak (rubeola) mempunyai beberapa persamaan. Rubella dan campak merupakan infeksi yang menyebabkan kemerahan pada kulit pada penderitanya.
Perbedaannya, rubella atau campak Jerman tidak terlalu menular dibandingkan campak yang cepat sekali penularannya. Penularan rubella dari penderitanya ke orang lain terjadi melalui percikan ludah ketika batuk, bersin dan udara yang terkontaminasi. Virus ini cepat menular, penularan dapat terjadi sepekan (1 minggu) sebelum timbul bintik-bintik merah pada kulit si penderita, sampai lebih kurang sepekan setelah bintik tersebut menghilang.
Namun bila seseorang tertular, gejala penyakit tidak langsung tampak. Gejala baru timbul kira-kira 14 – 21 hari kemudian. Selain itu, campak lebih lama proses penyembuhannya sementara rubella hanya 3 hari, karena itu pula rubella sering disebut campak 3 hari.

Berbahaya Bagi Ibu Hamil
Bagi ibu hamil, campak Jerman sangat berbahaya efeknya terutama pada tiga bulan pertama kehamilan. Virus rubella dapat menembus plasenta dan menyerang janin yang sedang tumbuh sehingga dapat menyebabkan janin yang dikandung akan cacat. Rawannya trimester pertama, karena pada saat itulah masa pembentukan organ tubuh janin. Jika kandungan ibu sudah mencapai triwulan kedua, kemungkinan cacat bawaan berkurang sampai 6,8%. Sedangkan dalam triwulan ketiga, kemungkinan itu makin kecil, yaitu 5,3% saja.
Biasanya, kalau ibu terjangkit rubella sebelum trimester kedua kehamilannya, dokter akan menganjurkan agar kandungannya dibuang. Sebab, adanya kemungkinan bayi cacat perlu dipertimbangkan. Selain itu, bayi yang dilahirkan dari ibu yang terjangkit rubella akan menjadi penyebar virus selama berbulan-bulan sesudahnya. Ini tentu membahayakan. Baik terhadap sesama bayi maupun orang dewasa.
Karena itulah, disarankan bagi wanita yang mengandung untuk rutin melakukan pemeriksaan untuk mengantisipasi virus tersebut. Atau lebih baik lagi, jika mendapatkan imunisasi measles-mumps-rubella (MMR). Untuk memberantas rubella, disarankan agar wanita yang belum menikah atau berkeinginan hamil menjalani pemeriksaan atau test darah. Jika wanita tersebut tergolong rentan rubella, sebaiknya divaksinasi.
Bagi orang terutama wanita yang pernah terjangkit campak Jerman, tidak akan mengalaminya lagi, karena rubella diderita sekali seumur hidup. Meski demikian, bagi wanita hamil sebaiknya tetap menjalani pemeriksaan, untuk mengetahui apakah tubuhnya sudah membentuk zat antibodi rubella atau belum.
Untuk vaksin rubella ini memang relatif mahal. Namun jika tidak dilakukan maka penyakit radang otak menjadi komplikasi penyakit rubella, selain peradangan pada telinga tengah.
Rubella Pada Balita
Bagi anak-anak balita, pada usia 15 bulan atau 12 bulan (jika ia tidak mendapatkan imunisasi campak), diberikan vaksinasi mumps-measles-rubella (MMR), untuk mencegah risiko tinggi yang membahayakan bagi kesehatan.
Selama ini banyak yang mengatakan bahwa vaksin tersebut berpengaruh terhadap terjadinya penyakit Crohn's ataupun autism, namun dugaan tersebut tidak disertai dengan bukti-bukti yang jelas.
Menurut Vittorio Demicheli, M.D., dari Servizo Sovrazole Epidemiologia, Mumps, measles dan rubella adalah penyakit yang serius yang berpotensi menjadi suatu penyakit yang fatal, menyebabkan kecacatan dan kematian.
Measles dan rubella masih terjadi pada negara yang sedang berkembang dimana program vaksinasi tidak dijalankan dengan baik sehingga angka kematian akibat penyakit ini tinggi. Di negara yang sudah berkembang kejadian penyakit ini jarang terjadi.
Dalam penelitiannya baru-baru ini, Dr Demicheli dan timnya mempelajari bukti-bukti tentang keuntungan dan kerugian pengguanaan vaksin MMR. Mereka melakukan 139 penelitian, 31 diantaranya mengalami bias. Penelitian tersebut membandingkan percobaan prospektif dan retrospektif terhadap efek dari MMR dibandingkan dengan plasebo.
Hasil yang didapatkan adalah vaksin tersebut sangat rendah menyebabkan gangguan infeksi traktus respiratorius bagian atas, dan terlihat efeknya tidak terlalu berbeda dibandingkan dengan plasebo. Mereka menemukan hubungan yang positif antara MMR dan trombositopeni purpura ringan, parotitis, kejang febril dalam 2 minggu setelah divaksinasi.
Kesimpulan yang didapatkan menjelaskan bahwa tidak ada fakta yang dapat membuktikan hubungan antara vaksinasi MMR dengan penyakit Crohn's, kolitis ulseratif ataupun autism.
http://id.wikipedia.org/wiki/Virus_Rubela